Kamis, 27 Agu 2020 12:21 WIB

5 Hal Soal Reinfeksi Virus Corona yang Perlu Diketahui

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Covid-19: Bagaimana mutasi memberi petunjuk tentang penyebaran dan asal-usul virus corona 5 fakta soal reinfeksi Corona yang perlu kamu tahu. Foto: BBC Magazine)
Jakarta -

Minggu ini setidaknya ada tiga kasus reinfeksi atau terinfeksi virus Corona untuk kedua kalinya yang dikonfirmasi beberapa negara. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang kekebalan terhadap virus mematikan itu.

Meskipun kasus reinfeksi pernah dilaporkan sebelumnya di Korea Selatan pada Mei lalu, kala itu dugaan yang muncul bahwa yang sebenarnya terjadi adalah kemungkinan false positive.

Namun, kasus reinfeksi yang baru-baru ini terjadi lebih bisa dipercaya kebenarannya, dan tentunya membuat khawatir beberapa ilmuwan. Dari kasus-kasus baru tersebut juga mengkonfirmasi adanya jenis virus yang sedikit berbeda.

Berikut 5 hal yang perlu diketahui tentang reinfeksi virus Corona COVID-19 yang dikutip dari New York Post.

1. Di mana saja kasus reinfeksi COVID-19 terkonfirmasi?

Kasus reinfeksi COVID-19 pertama kali dikonfirmasi di Hong Kong yang dialami pria berusia 33 tahun. Ia merupakan pasien pertama yang dipastikan mengalami reinfeksi virus Corona pasca sembuh 4 bulan sebelumnya.

Pria asal Hong Kong tersebut pertama kali terinfeksi dan mengalami beberapa gejala ringan pada Maret 2020. Para peneliti di University of Hongkong mengatakan setelah pulih, pria itu kembali positif COVID-19 saat dites di bandara pasca kembali dari Spanyol.

Kasus reinfeksi yang baru diketahui selanjutnya terjadi di Belgia. Pasien tersebut terinfeksi COVID-19 untuk kedua kalinya pada pertengahan Juni 2020, setelah sembuh pada Maret lalu.

Kasus reinfeksi ketiga dilaporkan terjadi terkonfirmasi di Belanda. Ini dialami oleh orang lanjut usia yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah, sehingga membuatnya terinfeksi COVID-19 untuk kedua kalinya yang dikonfirmasi oleh pejabat kesehatan setempat, Selasa (25/8/2020).

2. Apakah reinfeksi berbahaya dan bisa mengembangkan kekebalan virus?

Dalam kasus pria asal Hong Kong yang mengalami reinfeksi, para ilmuwan mengatakan meskipun infeksi sebelumnya tidak mencegah dirinya terinfeksi virus Corona untuk kedua kalinya, tetapi sistem kekebalannya mungkin menahan virus semakin memburuk.

"Infeksi kedua sama sekali tidak bergejala, respon kekebalannya mencegah penyakit menjadi lebih buruk," kata ahli imunologi di Universitas Yale, Akiko Iwasaki.

"Infeksi alami menciptakan kekebalan yang bisa mencegah penyakit, tetapi bukan mencegah infeksi ulang terjadi," imbuhnya.

Namun, adanya kasus ini membuat beberapa ilmuwan berharap bisa meningkatkan keprihatinan komunitas ilmiah terkait kekebalan tubuh terhadap penyakit.

"Saya pikir dalam beberapa hari mendatang kita akan melihat cerita serupa lainnya. Ini bisa menjadi pengecualian, tetapi memang ada," ujar Marc Van Ranst, ahli virologi Belgia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini tidak ada bukti bahwa orang yang sudah pulih dari COVID-19 dan memiliki antibodi bisa terlindungi dari infeksi kedua Corona.

3. Berapa lama antibodi bisa bertahan?

Menurut para ilmuwan, virus Corona ini masih terlalu baru bagi mereka, sehingga pertanyaan terkait berapa lama antibodi bisa bertahan masih belum diketahui pasti.

Tetapi, pria di Hong Kong kembali terinfeksi setelah empat bulan sembuh dari COVID-19, sedangkan pasien di Belgia tiga bulan. Menurut Van Ranst, mungkin akan ada banyak orang yang mengalami reinfeksi setelah 6-7 bulan sembuh.

Sebagai perbandingan, seseorang bisa mengalami reinfeksi flu biasa dalam waktu kurang dari setahun. Tapi, para ahli berharap bahwa virus Corona ini berperilaku seperti SARS dan MERS, yang menghasilkan antibodi yang bisa bertahan selama beberapa tahun.

4. Apa vaksin Corona bisa menahan reinfeksi?

Para ilmuwan pun belum tahu pasti apa vaksin Corona nanti bisa menahan terjadinya reinfeksi ini. Jika virus Corona bermutasi lebih cepat daripada antisipasi yang kita lakukan, orang-orang mungkin perlu divaksinasi lebih sering.

5. Di mana reinfeksi COVID-19 kemungkinan bisa terjadi lagi?

Dokter melaporkan adanya beberapa kasus dugaan reinfeksi terjadi di Amerika Serikat, termasuk di Los Angeles dan New Jersey. Selain itu, Korea Selatan juga melaporkan adanya kasus dugaan serupa.

Namun, tidak ada satu pun dari kasus tersebut yang dikonfirmasi melalui pengujian genetik yang ketat.



Simak Video "Riset Ahli Soal Kasus Pasien Sembuh Corona Kembali 'Terinfeksi'"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)