Selasa, 08 Sep 2020 05:20 WIB

Diklaim Ringan, Ini Efek Samping Vaksin Corona Sputnik V Buatan Rusia

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Asian Beautiful Doctor Nurse woman in uniform with stethoscope, rubber gloves, mask check syringe injection, portrait , studio lighting dark background four back light flare silhouette copy space Efek samping vaksin Corona Rusia diklaim ringan (Foto: iStock)
Jakarta -

Vaksin virus Corona COVID-19 yang dikembangkan Rusia disebut berhasil menciptakan antibodi pada relawan dalam pengujian di fase 1 dan 2.

"Respons kekebalan yang didapatkan sukarelawan dari vaksin ini cukup untuk menangkal infeksi COVID-19," tulis peneliti dikutip dari CNN.

Dalam jurnal yang diterbitkan The Lancet, vaksin yang diberi nama Sputnik V itu juga menyebabkan beberapa gejala ringan pada subjek penelitian. Setengah dari subjek peneliti mengalami demam dan 42 persen mengalami sakit kepala. Sementara itu sekitar 28 persen mengeluh kelelahan dan 24 persen alami nyeri sendi.

Penelitian tersebut tidak menyebut berapa lama efek samping bertahan. Tetapi peneliti mengatakan sebagian besar efek sampingnya ringan dan tidak berlangsung lama.

"Hasilnya hingga saat ini meyakinkan. Tetapi penelitian ini masih terlalu kecil untuk melihat apakah ada efek samping serius atau yang jarang terjadi," kata vaksinolog dari John Hopkins University.

Sementara itu para ilmuwan Rusia mengakui keterbatasan penelitian ini. Jumlah partisipan yang menjadi relawan di fase 1 dan 2 cukup rendah sehingga diperlukan penyelidikan lebih lanjut tentang keefektifan vaksin ini untuk pencegahan COVID-19.

Kirill Dmitriev, kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yang mendanai penelitian vaksin Rusia, menyebut saat ini vaksin Sputnik V sudah didistribusikan ke kelompok berisiko tinggi. Vaksin yang dikembangkan oleh Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya ini baru mulai uji klinis fase 3 pertengahan Agustus lalu.

Uji coba fase 3 melibatkan sekitar 40.000 orang dan hasil diharapkan dapat dilaporkan bulan depan. Jika semua berjalan dengan baik, Rusia berencana vaksinasi massal sebelum akhir tahun 2020.



Simak Video "WHO Jelaskan Penyebab Kasus 'Florona' Bisa Terjadi"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)