Senin, 14 Sep 2020 15:50 WIB

Kasus Corona Terus Meningkat, 4 Negara Ini Kembali Terapkan Lockdown

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak 4 negara yang kembali berlakukan lockdown. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Setelah berjalan 6 bulan, jumlah kasus akibat pandemi virus Corona masih terus meningkat di berbagai negara. Di Indonesia, DKI Jakarta akhirnya kembali memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penularan.

Beberapa negara juga memutuskan untuk menerapkan kebijakan penguncian atau lockdown untuk menekan angka kasus baru yang terus muncul dan bertambah dari hari ke harinya. Adapun beberapa negara yang sudah atau baru akan menerapkan kebijakan lockdown, yang detikcom rangkum dari berbagai sumber sebagai berikut:

1. Israel

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan melakukan lockdown nasional selama tiga minggu, mulai Jumat depan. Ini dilakukan menahan penyebaran virus Corona setelah adanya gelombang kedua kasus baru COVID-19.

Selama lockdown, masyarakat Israel masih diizinkan melakukan perjalanan ke tempat kerja yang beroperasi secara terbatas. Sekolah dan pusat perbelanjaan akan ditutup, tetapi supermarket dan apotek masih tetap diizinkan untuk buka.

"Saya tahu langkah-langkah itu akan menimbulkan harga yang berat bagi kita semua," kata Netanyahu yang dikutip dari Reuters, Senin (14/9/2020).

Kebijakan lockdown ini disebut lebih ketat dibandingkan yang dilakukan pada April lalu, saat virus Corona baru pertama kali masuk ke negara tersebut.

2. Prancis

Pemerintah Prancis akan membicarakan rencana pemberlakuan kebijakan lockdown di beberapa wilayahnya. Keputusan ini diambil terkait kasus Corona yang masih terus melonjak dan akan menjadi lockdown kedua selama pandemi ini berlangsung.

"Kami tidak akan mengecualikan apapun," kata juru bicara Pemerintah Prancis, Gabriel Attal yang dikutip dari Reuters.

Sampai saat ini, 20 kota besar tengah diawasi pemerintah pusat, termasuk Bordeaux, Marseille, dan wilayah lainnya. Tetapi, Ketua Dewan Ilmuwan Prancis Jean-Francois Delfraissy mengatakan pemerintah harus bergerak cepat supaya penyebaran virus ini bisa terkendali dengan baik.

"Kami harus melakukan apapun agar tidak ada lockdown, tapi di wilayah berisiko kamu bisa mempertimbangkan pembatasan ketat untuk mencegah adanya kerumunan banyak orang," jelasnya.

3. Myanmar

Setelah Myanmar melaporkan adanya lonjakan kasus COVID-19, pemerintah setempat berencana untuk memperketat kebijakan lockdownd di kota terbesarnya, Yangon. Saat ini, kasus COVID-19 di negara tersebut mencapai lebih dari 2.000 orang.

Untuk mencegah meluasnya virus ini, pemerintah sudah memberlakukan lockdown. Tetapi, karena kasus masih terus meningkat akhirnya mengharuskan sepertiga penduduk di Yangon tetap berada di rumah. Dikutip dari Reuters, Kota Yangon ini adalah episenter virus Corona di Myanmar.

Selain itu, pemerintah setempat juga meliburkan sekolah dan pembatasan lain, seperti larangan masuk ke Yangon dan ibu kota Naypyitaw. Tetapi, pemerintah di sana tidak menutup kantor, pabrik, dan lembaga pemerintahan, sehingga masih bisa bekerja meski di rumah.

4. Selandia Baru

Setelah sempat bebas dari kasus baru Corona, Selandia Baru akhirnya mendorong pemerintah untuk kembali memberlakukan lockdown terutama di Auckland. Tetapi, Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan, lockdown ini akan kembali ditinjau minggu depan.

Tinjauan itu berisi pencabutan lockdown yang telah diterapkan di seluruh negeri pada 21 September 2020 mendatang, kecuali kota Auckland yang merupakan pusat gelombang kedua Selandia Baru. Dikutip dari ABC Net, jika perubahan itu terjadi peraturan baru itu akan mulai berlaku pada 23 September 2020 nanti.



Simak Video "Spanyol Catatkan 1 Juta Kasus Positif Baru Corona!"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)