Minggu, 27 Sep 2020 17:00 WIB

Terpopuler Sepekan: 4 Fakta SNI Masker Kain yang Diterbitkan Pemerintah

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Masker Kain dari Brand Lokal yang Bisa Dipakai Ulang Sederet fakta SNI masker kain yang diterbitkan pemerintah. (Foto: Instagram)
Jakarta -

Baru-baru ini pemerintah mengeluarkan SNI (Standar Nasional Indonesia) yang mengatur kualitas masker kain di masyarakat. Disebutkan, masker yang sesuai standar adalah yang terdiri dari minimal dua lapis kain.

"SNI 8914:2020 menetapkan persyaratan mutu masker yang terbuat dari kain tenun dan/atau kain rajut dari berbagai jenis serat, minimal terdiri dari dua lapis kain dan dapat dicuci beberapa kali (washable)," kata Deputi Bidang Pengembangan Standar Badan Standardisasi Nasional (BSN) Nasrudin Irawan dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9/2020).

Dokter paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP, mengaku setuju dengan adanya standarisasi tersebut. Pasalnya, masker kain yang berlapis memang lebih memberikan proteksi terhadap paparan virus Corona COVID-19.

"Setuju saja, masker kain kan untuk proteksi sehari-hari ya bukan untuk buat standar penanganan pasien. (Masker kain tiga lapis) Itu proteksinya cukup baik," jelas dr Erlang.

Terkait hal ini, detikcom pun telah merangkum 4 fakta tentang SNI masker kain yang diterbitkan oleh BSN, seperti berikut.

1. SNI ini tidak berlaku pada jenis masker kain tertentu

Nasrudin mengatakan, SNI ini tidak berlaku pada masker kain berbahan dasar non woven (nirtenun) dan masker untuk bayi.

"Standar ini tidak dimaksudkan untuk mengatasi semua masalah terkait dengan keselamatan kesehatan dan kelestarian lingkungan dalam penggunaannya," ucap Nasrudin.

2. Bahan katun lebih disarankan untuk masker kain

Penggunaan bahan untuk masker kain juga perlu diperhatikan. Pasalnya, tidak semua bahan memiliki kemampuan filtrasi yang baik.

Tingkat efisiensinya sendiri tergantung dari kerapatan kain, jenis serat, dan anyaman. Menurut penelitian, kemampuan filtrasi masker kain berkisar antara 0,7 persen sampai dengan 60 persen. Semakin banyak lapisan, maka kemampuan filtrasinya akan semakin tinggi.

Sementara menurut dr Erlang, masker kain berbahan dasar katun memiliki tingkat filtrasi yang lebih baik, dibandingkan dengan jenis kain lainnya.

"Untuk standar kain sih biasanya katun. Kalau untuk bahan polyester itu pori-porinya lebih besar. Jadi memang lebih baik pakai masker dari bahan katun," jelasnya.

3. Produsen perlu memberikan penandaan pada masker kain

Dalam SNI masker kain, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi pihak produsen, terutama dalam pemberian penandaan pada masker, di antaranya sebagai berikut.

- Mencantumkan merek pada kemasan
- Mencantumkan negara pembuat
- Mencantumkan jenis serat pada setiap lapisan kain
- Mencantumkan kemampuan masker, seperti anti bakteri dan anti air
- Mencantumkan label 'cuci sebelum dipakai'
- Mencantumkan petunjuk pencucian
- Mencantumkan bahan dasar kain

Nasrudin pun menjelaskan, masker kain sebaiknya tidak digunakan lebih dari empat jam. "Karena masker kain tidak seefektif masker medis dalam menyaring partikel, virus, dan bakteri," ujarnya.

4. SNI masker kain bersifat sukarela atau tidak wajib

Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Kerja Sama, dan Layanan Informasi BSN, Zul Amri mengatakan bahwa peraturan SNI masker kain ini masih bersifat sukarela atau tidak wajib. Artinya pihak produsen tidak wajib mengikuti ketentuan SNI yang telah ditetapkan BSN.

"SNI tersebut, menjadi wajib diterapkan jika instansi pemerintah yang berwenang mengadopsi SNI tersebut menjadi regulasi teknis atau sering disebut dengan memberlakukan SNI secara wajib. Namun saat ini tidak ada regulasi teknis yang diterbitkan oleh pemerintah untuk pemberlakuan wajib SNI tersebut," jelas Zul.

"Meskipun begitu, informasi tentang SNI Masker dari Kain tersebut penting diketahui," tambahnya.



Simak Video "Catat! Standar SNI untuk Masker Kain: Minimal Dua Lapis"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)