Kamis, 01 Okt 2020 07:00 WIB

Round Up

Bangku Kosong untuk Menkes Terawan, Bullying atau Kritik?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menkes Terawan Agus Putranto Menkes Terawan Agus Putranto (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Tayangan Mata Najwa menuai kontroversi setelah menghadirkan bangku kosong untuk Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Najwa terlihat seolah sedang mewawancarai Menkes Terawan yang digambarkan dengan bangku kosong.

Najwa mengaku melakukan hal ini lantaran Menkes Terawan berulang kali menolak hadir di acara Mata Najwa. Ia pun melontarkan beberapa pertanyaan termasuk soal keberadaannya di hadapan publik yang jarang terlihat selama pandemi Corona ke bangku kosong, yang mewakili Menkes Terawan.

Banyak netizen merasa terwakili oleh beberapa pertanyaan yang dilontarkan Najwa, namun ada pula yang menganggap hal ini termasuk bullying. Dari sisi kejiwaan, apakah sindiran Najwa lewat bangku kosong memang termasuk bullying?

Pendapat para psikolog soal hal ini memang beragam. Di satu sisi, hal ini dinilai bisa disebut bullying jika perilaku yang dilakukan seseorang bisa menimbulkan tekanan psikologis.

Psikolog klinis Kasandra Putranto dari Kasandra & Associate menilai adanya rasa tidak nyaman atau emosi negatif yang timbul dari sikap seseorang merupakan kriteria bullying. Tidak hanya Menkes Terawan, tetapi orang lain yang ikut merasakan emosi negatif usai menonton tayangan tersebut.

"Dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana reaksi dan respons dari bapak Menteri Terawan selaku orang yang paling terkena oleh perilaku ini, yang bisa disebut sebagai korban langsung," jelas Kasandra saat dihubungi detikcom Rabu (20/9/2020).

"Namun ketika masyarakat merasakan emosi negatif tentu saja dengan demikian sudah dapat disimpulkan sebagai perilaku bullying," lanjut Kasandra.

Pendapat berbeda disampaikan psikolog Rahma Nuzulia Tristinarum yang meyakini hal ini tidak termasuk bullying. Rahma menilai Najwa dalam hal ini tengah berusaha mencari informasi untuk meluruskan apa yang menjadi pertanyaan banyak masyarakat selama pandemi Corona.

"Jika mengacu pada pengertian bullying di antaranya adalah berupa sikap dan perilaku yang menyakiti seseorang secara berulang, baik secara fisik maupun psikis, maka yang Najwa lakukan bukan termasuk tindakan bullying," ungkap Rahma saat dihubungi detikcom Rabu (30/9/2020).

"Bisa jadi acara tersebut adalah sebagai media untuk meneruskan aspirasi masyarakat," bebernya.

Kesimpulannya, bullying atau kritikan?

Tonton video 'Komentar Epidemiolog soal Menkes Terawan yang Dicari-cari Publik':

[Gambas:Video 20detik]



(naf/up)