Senin, 05 Okt 2020 13:24 WIB

Diterima Trump, Ini Alasan Dexamethasone hanya untuk Pasien COVID-19 Kritis

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Covid-19: Presiden AS Donald Trump keluar RS dan menyapa pendukungnya walau masih terjangkit virus corona Donald Trump positif COVID-19. (Foto: BBC World)
Jakarta -

Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) dinyatakan positif COVID-19 pada Jumat (2/10/2020). Ia sempat disebut kritis karena saturasi oksigennya berada di bawah 90, meski begitu belakangan Trump tampak melambaikan tangan dari mobil pada Minggu (4/10/2020) di luar rumah sakit tempat ia dirawat karena positif COVID-19.

Para ahli pun menduga Trump mengalami kondisi berat karena COVID-19 lantaran pemberian dexamethasone. Pasalnya, dexamethasone selama ini hanya diberikan pada pasien COVID-19 bergejala berat atau membutuhkan ventilator.

Penggunaan dexamethasone pada pasien COVID-19 bermula dari penelitian Universitas Oxford. Mereka menemukan kemanjuran dexamethasone yang berhasil menyelamatkan pasien COVID-19 dengan gejala berat.

Uji klinis dexamethasone

Bahkan beberapa waktu lalu New York Times melaporkan para peneliti memperkirakan penggunaan obat steroid dexamethasone sejak awal pandemi Corona bisa mencegah sejumlah kematian.

Dalam kasus yang parah, virus Corona secara langsung menyerang sel-sel yang melapisi saluran udara dan paru-paru pasien. Namun, infeksi tersebut juga dapat memicu reaksi kekebalan yang luar biasa yang sama berbahayanya. Tiga perempat pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit harus menerima bantuan oksigen.

Obat dexamethasone mengurangi peradangan yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh. Dalam penelitian dari Universitas Oxford, obat dexamethasone mengurangi sepertiga kematian pasien yang menggunakan ventilator, dan seperlima dan kematian pasien dengan bantuan oksigen.

Termasuk obat keras

Pasalnya, hingga kini belum ada uji klinis terkait manfaat dexamethasone terhadap pasien Corona bergejala ringan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun sempat melarang keras penggunaan dexamethasone untuk pencegahan Corona karena termasuk obat keras.

Hal yang sama disampaikan WHO terkait penggunaan dexamethasone pada pasien COVID-19. Belum ada uji klinis dexamethasone yang dilakukan pada pasien bergejala ringan.

"Manfaatnya hanya terlihat pada pasien yang sakit parah dengan COVID-19, dan tidak diamati pada pasien dengan penyakit yang lebih ringan," demikian rilis WHO beberapa waktu lalu.

"Ini adalah pengobatan pertama yang terbukti mengurangi kematian pada pasien COVID-19 yang membutuhkan oksigen atau dukungan ventilator," kata Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Dexamethasone juga bisa memicu beragam efek samping terlebih jika tidak menggunakan resep dokter seperti menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan tekanan darah, seperti keterangan dari BPOM terkait larangan dexamethasone untuk mencegah COVID-19.



Simak Video "Obat COVID-19 Donald Trump Dikembangkan dari Sel Janin Aborsi?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)