Senin, 05 Okt 2020 13:47 WIB

Para Ahli Menduga Donald Trump Sakit Parah Akibat COVID-19, Ini Sebabnya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Sepekan terakhir ini dunia informasi media ramai diwarnai oleh berita perang antara Armenia dan Azerbaijan hingga Donald Trump dinyatakan positif Corona. Donald Trump. (Foto: AFP/ALEX EDELMAN)
Jakarta -

Tim medis Presiden AS Donald Trump menyampaikan pembaruan pada Minggu (4/10/2020) tentang kondisi terbaru yang dialaminya. Disebutkan bahwa saturasi oksigen Trump sempat di bawah 90 persen dan diberi obat dexamethasone.

Rincian tersebut memberi isyarat kepada beberapa ahli kesehatan bahwa kondisi Trump mungkin lebih serius daripada yang diperkirakan sebelumnya.

"Apa yang saya dengar dalam deskripsi konferensi pers menunjukkan bahwa presiden memiliki penyakit yang lebih parah daripada gambaran yang dilukiskan secara umum," kata Dr Daniel McQuillen, seorang spesialis penyakit menular di Lahey Hospital & Medical Center di Burlington, Massachusetts, dikutip dari Channel News Asia.

Ahli Penyakit Menular Amerika mengatakan dexamethasone hanya diberikan pada pasien COVID-19 dengan gejala berat atau membutuhkan bantuan oksigen. Penelitian menunjukkan dexamethasone mungkin berbahaya bagi pasien dengan gejala ringan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengeluarkan pedoman pada 2 September yang merekomendasikan bahwa dexamethasone hanya diberikan kepada pasien dengan "COVID-19 yang parah dan kritis."

Berdasarkan hasil dari sebuah uji coba, panel ahli National Institutes of Health merekomendasikan pemberian obat steroid dexamethasone kepada pasien COVID-19 yang membutuhkan oksigen.

"Panel merekomendasikan agar tidak menggunakan dexamethasone untuk pengobatan COVID-19 pada pasien yang tidak membutuhkan oksigen tambahan," tulis NIH dalam pedomannya.

Mengingat Trump berusia 74 tahun dan memiliki kelebihan berat badan, risiko mengalami komplikasi akibat COVID-19 juga kian tinggi.

"Kami hanya memberikan dexamethasone kepada pasien yang membutuhkan oksigen tambahan," kata Dr Amesh Adalja, spesialis penyakit menular di Universitas Johns Hopkins.



Simak Video "Obat COVID-19 Donald Trump Dikembangkan dari Sel Janin Aborsi?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)