Jumat, 16 Okt 2020 16:18 WIB

7 Penyebab Anak Mogok Makan dan Cara Mengatasinya

Elsa Himawan - detikHealth
Little Girl refusing to eat healthy lunch/snack of fruit and drink her milk 7 penyebab anak mogok makan dan cara mengatasinya. (Foto: Getty Images/iStockphoto/StephaMW)
Jakarta -

Para orang tua sering merasa kesulitan saat anak mogok makan. Sebenarnya anak yang mogok makan bisa disebabkan karena beberapa hal termasuk rasa bosan.

Dr dr Aryono Hendarto SpA (K) MPH Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM menjelaskan mogok makan sangat umum dialami anak-anak. Namun, jika anak-anak hanya mengalami mogok makan dalam beberapa hari, masih bisa disebut wajar.

"Anak-anak yang mogok makan dalam jangka lama pasti berpengaruh pada nutrisinya. Pengaruh mogok makan atau gerakan tutup mulut (GTM) yang berkepanjangan, baru akan terlihat efek sampingnya setelah 6 bulan kemudian," jelas Dr Aryono, dikutip dari HaiBunda.

"GTM tidak selalu menyebabkan anak terlihat kurus. Sebagian anak-anak tetap terlihat berisi meskipun mogok makan dalam waktu lama. Tapi anak yang terlihat gemuk belum tentu gizi mikronya tercukupi. Ditemui dalam beberapa kasus, anak gemuk malah kadar sel darah merahnya (hemoglobin) dalam darah rendah. Ini mengindikasikan anak kekurangan zat gizi mikro yaitu zat besi," lanjutnya.

Berikut beberapa penyebab anak mogok makan.

1. Anak bosan

Semenjak era pandemi COVID-19 ini, Dr Aryono menyebut anak lebih banyak melakukan aktivitas di rumah. Hal ini membuat kesempatan anak bermain di luar rumah menjadi terbatas, sehingga membuat anak bosan tidak nafsu makan.

"Anak perlu keluar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sayangnya saat pandemi ini, interaksi di luar justru dilarang. Itulah penyebabnya, anak-anak tidak tertarik untuk makan," jelas Dr Aryono.

2. Orang tua merusak aturan pemberian makan

"Ketika anak masih aktif menyusu dan mengalami mogok makan, orang tua bisa saja tanpa menyadarinya, merusak aturan pemberian makan," katanya.

Hal ini membuat para orang tua terkadang berpikir lebih baik memberikannya susu daripada anak akhirnya kelaparan. Padahal cara makan seperti ini dinilai Dr Aryono bisa merusak aturan makan (feeding rules).

3. Picky eater

Anak usia 1-3 tahun menjadi picky eater masih bisa disebut normal. Sebab, anak yang masuk ke golongan picky eater, tidak mau makanan satu kelompok saja. Artinya, masih ada jenis makanan lain yang dimakan oleh anak.

4. Selective eater

Berbeda dengan picky eater, adapula anak yang masuk ke golongan selective eater. Sebagai orang tua, kamu perlu mewaspadainya karena hal itu sudah tidak normal.

"Selective eater adalah kondisi ketika anak hanya mau makan satu kelompok saja. Misalnya, mau makan protein saja atau karbohidrat saja," sebut Dr Aryono.

5. Kebiasaan orang tua

Penelitian menunjukkan bahwa selera makan orang tua sangat mempengaruhi menu yang disajikan ke anak. Seharusnya, orang tua bisa memahami selera makan anak, bisa jadi selera makan anak sangat berbeda dengan kedua orang tuanya.

6. Orang tua tidak paham fungsi peran dalam pemberian makan anak

"Proses makan melibatkan interaksi antara si pemberi dan penerima makan. Anak sendirilah yang sebenarnya menentukan seberapa banyak porsinya dan kapan dia mau makan," jelas Dr Aryono.

Sementara itu, menurutnya orang tua hanya bertugas memberi makan yang menyesuaikan kebutuhan anak. Oleh sebab itu, sebaiknya orang tua tidak menyamakan diri dengan anak.

7. Neophobia

Neophobia adalah keadaan ketika anak takut menelan baru karena belum pernah mencobanya. Contohnya, saat melihat makanan berwarna merah, bisa saja anak menilai makanan itu adalah cabai. Anak yang tidak suka pedas, tentu menolak makanan itu, sehingga memicu anak melakukan GTM atau mogok makan.

Lantas bagaimana mengatasinya?

- Buat jadwal makan yang teratur
- Ciptakan lingkungan yang menyenangkan saat makan
- Usahakan tidak memaksa anak
- Amati tanda-tanda bahaya pada tubuh anak seperti gangguan pencernaan, pernapasan atau penyakit bawaan
- Perhatikan kuantitas dan kualtas makanan
- Membatasi waktu makan anak selama 30 menit
- Jangan menyerah mengenalkan makanan pada anak
- Pemberian makanan instan tak masalah
- Memberikan suplemen pada anak



Simak Video "Ilmuwan Jerman Prediksi Covid-19 Bertahan hingga 2023 "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)