Rabu, 21 Okt 2020 11:57 WIB

Perlu Tahu! 4 Temuan Terbaru Virus Corona COVID-19

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Virus Corona COVID-19 tak henti-hentinya memberikan kejutan dalam dunia medis. Sejumlah temuan baru pun ditemukan oleh para ilmuwan di berbagai negara saat meneliti virus penyebab pandemi tersebut.

Berbagai penelitian ini bertujuan untuk mencari cara terbaik dalam pencegahan dan penanggulangan penyebaran COVID-19. Terlebih adanya kemungkinan karakteristik virus yang berubah-ubah karena bermutasi.

Dirangkum detikcom, berikut 4 studi terbaru seputar virus Corona COVID-19 yang diungkap oleh para ilmuwan.

1. Bertahan 9 jam di kulit

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Kyoto Prefectural University of Medicine, Jepang, menemukan bahwa virus Corona mampu bertahan selama lebih dari sembilan jam di permukaan kulit.

Meski begitu, studi menunjukkan, virus Corona akan benar-benar mati dalam waktu 15 detik saat diberi hand sanitizer yang mengandung alkohol 80 persen.

"Penemuan ini mendukung hipotesis bahwa kebersihan tangan yang benar penting untuk pencegahan penyebaran SARS-CoV-2," tulis para peneliti.

Studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Clinical Infectious Disease.

2. Bertahan 28 hari di uang kertas dan layar ponsel

Laporan penelitian yang dilakukan oleh Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP) menunjukkan, virus Corona bisa bertahan selama 28 hari pada uang kertas, layar ponsel, dan permukaan halus lainnya di suhu 20 derajat celsius.

Studi yang dipublikasikan dalam Virology Journal itu juga menemukan, ketahanan virus Corona disebut lebih kuat dibandingkan virus flu pada umumnya, yakni 17 hari.

Meski begitu, para peneliti mengatakan, kelangsungan hidup virus Corona bisa menurun jadi kurang dari sehari pada permukaan jika berada di suhu 40 derajat celsius.

"Hasil kami menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat tetap menular dari permukaan dalam jangka waktu yang lama. Maka dari itu, perlu praktik yang baik dalam mencuci tangan dan membersihkan permukaan secara teratur," kata Wakil Direktur Pusat ACDP, Debbie Eagles.

3. Berpengaruh pada pendengaran

Dokter spesialis otolaringologis dari John Hopkins Medicine, Dr Matthew Stewart, mengatakan bahwa tak sedikit pasien COVID-19 yang mengeluh mengalami gangguan pendengaran.

"Kami semakin sering mendengar bahwa orang mengalami gangguan pendengaran akibat COVID-19," ucap Stewart.

Bahkan menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris, sebanyak 13 persen dari 138 pasien COVID-19 yang telah keluar selama delapan minggu dari rumah sakit mengaku mengalami gangguan pendengaran.

Maka dari itu, Stewart dan timnya pun melakukan penelitian terkait hal ini. Ia melakukan penelitian pada tubuh tiga pasien COVID-19 yang telah meninggal untuk melihat apakah ada virus Corona di telinga bagian dalamnya.

Hasilnya, SARS-CoV-2 atau virus penyebab COVID-19 ini ditemukan berada pada telinga tengah dan tulang mastoid di tengkorak, yang terdapat tepat di belakang telinga.

"Secara pribadi saya curiga (SARS-CoV-2) mengganggu indra pendengaran," ujar Stewart.

Studi ini pun telah diterbitkan di JAMA Otolaryngology-Head and Neck Surgery.

4. Efektivitas remdesivir pada COVID-19

Studi terbaru yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, remdesivir dari Gilead Sciences tidak memiliki efek substansial terkait peluang pasien COVID-19 untuk bertahan hidup.

Temuan ini didapatkan setelah WHO meneliti 11.266 pasien di 30 negara berbeda yang dirawat di rumah sakit untuk mengevaluasi efek dari empat regimen obat potensial, termasuk remdesivir, hydroxychloroquine, kombinasi anti-HIV dari lopinavir/ritonavir, dan interferon.

Studi tersebut menemukan, remdesivir hanya memberikan sedikit efek pada kematian ataupun lama waktu perawatan pada pasien dengan gangguan pernapasan.

Gilead Sciences mempertanyakan temuan WHO. Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat itu menyebut data yang digunakan WHO tampak tidak konsisten dan dinilai prematur, sedangkan penelitian lain memvalidasi manfaat remdesivir.

"Data emerging (WHO) tampak inkonsisten, dengan lebih banyak bukti kuat dari penelitian terkontrol dan acak yang dipublikasikan di jurnal peer reviewed memvalidasi manfaat klinis remdesivir," kata Gilead kepada Reuters.



Simak Video "Dear Warga Indonesia, Yuk Lakukan 3W Agar Terhindar Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)