Senin, 02 Nov 2020 11:20 WIB

Gejala COVID-19 Anosmia Disebut Lebih Meyakinkan daripada Batuk

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Young Woman Noticed Smell Coming From Dishwasher In Kitchen Anosmia jadi gejala COVID-19 yang lebih meyakinkan. (Foto: Istock)
Jakarta -

Sebuah penelitian menunjukkan anosmia atau kehilangan indera penciuman jadi gejala COVID-19 yang lebih meyakinkan daripada batuk atau demam.

Studi oleh University College London (UCL) pada 590 orang yang kehilangan indera penciuman atau perasa secara tiba-tiba menemukan sebanyak 80 persen atau empat dari lima di antara mereka memiliki antibodi COVID-19, artinya mereka pernah terinfeksi penyakit tersebut.

Dari mereka yang memiliki antibodi, 40 persen tak memiliki gejala COVID-19 lainnya. Hal ini jadi bukti bahwa kehilangan indera penciuman merupakan tanda-tanda terinfeksi virus corona mulai pada April.

Kehilangan indera penciuman secara resmi dimasukkan sebagai gejala COVID-19 pada pertengahan bulan Mei.

"Temuan kami menunjukkan bahwa hilangnya bau dan rasa adalah indikator yang sangat dapat diandalkan bahwa seseorang kemungkinan besar mengidap COVID-19," kata penulis utama penelitian, Profesor Rachel Batterham, dikutip dari laman UCL.

Mengenal Anosmia, Gejala COVID-19 yang Bikin Susah Cium BauMengenal Anosmia, Gejala COVID-19 yang Bikin Susah Cium Bau Foto: infografis detikHealth

Walau tidak semua pasien COVID-19 akan kehilangan indera penciuman atau perasa, jika seseorang kehilangan indera penciuman kemungkinan besar itu disebabkan virus corona, kata penelitian ini.

Prof Rachel Batterham, mengatakan, meski anosmia jadi pertanda yang lebih meyakinkan, batuk dan demam masih dilihat banyak orang sebagai gejala utama yang harus diwasapadai.

Meskipun kehilangan indera penciuman dianggap sebagai gejala ringan dan tak perlu dibawa ke rumah sakit, Prof Batterham menunjukkan potensi bahaya dari hilangnya indera penciuman, di antaranya tak mampu untuk mendeteksi asap, gas yang bocor atau makanan yang sudah busuk.

Jika diderita dalam jangka waktu yang lama, hal tersebut juga dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup masyarakat.

"Temuan ini menekankan pentingnya orang untuk mewaspadai perubahan pada indera penciuman dan perasa, kemudian melakukan isolasi mandiri ketika mereka menyadari tak bisa mencium bau seperti parfum, pemutih, pasta gigi, atau kopi," jelas Prof Batterham.



Simak Video "Penyebab Hilangnya Indra Penciuman Pasien COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)