Jumat, 06 Nov 2020 18:29 WIB

Konsep OTG Belum Banyak Dipahami Masyarakat, Perlu Sosialisasi

Alfi Kholisdinuka - detikHealth
Sejumlah pasien berstatus orang tanpa gejala (OTG) senam bersama tim medis di Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin (28/9/2020). Sebanyak 30 pasien OTG mengikuti kegiatan senam yang bertujuan untuk meningkatkan sistem imun. Senam berlangsung selama 45 menit. Foto: Agung Pambudhy-Mengintip Pasien OTG Corona di Senam Stadion Patriot
Jakarta - Konsep Orang Tanpa Gejala (OTG) dalam penularan COVID-19 ternyata masih belum banyak dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal tersebut tercermin dari survei yang dilakukan oleh Nielsen dan UNICEF pada Agustus lalu.

Survei dilakukan di 6 kota besar, Jakarta, Makassar, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Medan dengan melibatkan sekitar 2.000 responden. Dari 2.000 responden yang disurvei, hanya 31,5% yang sudah mengimplementasikan perilaku pencegahan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

"Ini artinya, baru sepertiga dari responden survei yang melakukan protokol kesehatan secara lengkap," ujar Konsultan UNICEF Risang Rimbatmaja dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11/2020).

"Kalau kita bicara status sosial ekonomi, hasil survei mengatakan justru lower 1 dan 2 paling banyak yang melakukan 3 perilaku sekaligus (3M). Dari sisi usia, yang muda-muda kurang disiplin. Yang agak senior 50-54 tahun paling disiplin, ada perbedaan di rentang usia," imbuhnya dalam diskusi 'Keterlibatan Masyarakat dalam Respon Pandemi COVID-19' beberapa waktu lalu.

Jika dirinci, kata Risang, prilaku mencuci tangan menjadi yang paling banyak dilakukan responden dengan jumlah 71,25%, lalu diikuti dengan memakai masker 70,8%, dan yang paling rendah adalah menjaga jarak 46,8%.

Dia mengemukakan hasil tersebut menunjukkan masyarakat masih melakukan 3M secara parsial dengan perilaku yang paling banyak dilakukan adalah mencuci tangan dan memakai masker. Khusus untuk jaga jarak, Risang mengatakan ada aspek norma sosial dan mispersepsi yang melatarbelakangi rendahnya implementasi protokol ini.

"Misalnya orang lain yang mendekat bukan saya. Semua juga tidak jaga jarak kenapa saya harus jaga jarak. Nomor duanya adalah mispersepsi, saya sehat, tidak ada virus, ngapain kita jaga jarak. Konsep Orang Tanpa Gejala (OTG) itu belum betul-betul masuk di benak orang," tekannya.

Terkait dengan hal ini, UNICEF Communications Development Specialist Rizky Ika Syafitri menjelaskan konsep OTG perlu lebih ditekankan dalam komunikasi dengan masyarakat. Menurutnya, tidak mudah untuk mengubah prilaku masyarakat saat pandemi. Disiplin dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan menjadi kunci untuk keluar dari krisis kesehatan saat ini.

"Kami (UNICEF) mencoba menggali data agar kami bisa merumuskan strategis komunikasi yang tepat untuk mencapai perubahan perilaku. Kita harus paham audience, pengetahuan mereka cara pencegahan, cara penularan gimana, sikapnya terhadap perilaku itu," pungkasnya.

Simak Video "Waspada! Studi China Sebut OTG Sumbang 24% Penularan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)