Selasa, 10 Nov 2020 06:47 WIB

4 Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer yang Diklaim 90 Persen Efektif

Tim detikHealth - detikHealth
Asian Beautiful Doctor Nurse woman in uniform with stethoscope, rubber gloves, mask check syringe injection, portrait , studio lighting dark background four back light flare silhouette copy space Vaksin COVID-19 (Foto: iStock)
Jakarta -

Vaksin COVID-19 buatan Pfizer dan BioNTech menjadi yang pertama dinyatakan sukses dalam uji klinis fase III. Efektivitas vaksin ini diklaim mencapai 90 persen.

Pfizer yang berbasis di Amerika Serikat diharapkan mendapat Emergency Use Authorization (EUA) di Amerika Serikat dalam beberapa pekan ke depan. Vaksin ini teruji untuk usia 16-85 tahun.

Beberapa fakta yang perlu diketahui tentang faksin buatan Pfizer-BioNTech ini adalah sebagai berikut.

1. Jenis

Vaksin COVID-19 yang dinamakan BNT162b2 ini berbasis teknologi messenger RNA (nRNA). Menggunakan gen sintetis yang lebih mudah diciptakan, sehingga bisa diproduksi lebih cepat dibanding teknologi biasa.

2. Cara kerja

Sebelumnya, vaksin dibuat dari virus atau patogen yang tidak aktif atau dilemahkan. Virus yang tidak aktif ini tidak menyebabkan sakit tetapi mengajari sistem imun untuk memberikan respons perlawanan.

Vaksin yang dikembangkan Pfizer-BioNTech menggunakan teknologi yang berbeda. Dengan mRNA, tubuh tidak disuntik virus mati maupun dilemahkan, melainkan disuntik kode genetik dari virus tersebut. Hasilnya, tubuh akan memproduksi protein yang merangsang respons imun.

3. Arti klaim '90 persen efektif'

Data yang tersedia saat ini merupakan analisis interim yang dilakukan terhadap 94 partisipan. Kurang dari 9 di antaranya mengalami gejala COVID-19 setelah diberi vaksin.

Meski baru temuan awal, angka 90 persen ini mengejutkan karena selama ini para ilmuwan memperkirakan efektivitas vaksin COVID-19 tidak akan lebih dari 70 persen.

Uji klinis masih berjalan dan Para pakar dari Food and Drug Administration di Amerika Serikat masih akan mereview lebih banyak data untuk memastikan keamanannya.

4. Hanya mencegah gejala?

Dikutip dari Businessinsider, analisis ini belum menguji apakah vaksin tersebut juga mencegah infeksi asimptomatis atau tanpa gejala. Partisipan dites hanya ketika bergejala. Belum bisa dipastikan seberapa efektif vaksin mencegah seseorang jadi carrier asimptomatis.



Simak Video "Pfizer Minta Persetujuan EUA di AS untuk Anak 5-12 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)