Rabu, 11 Nov 2020 12:31 WIB

Plus Minus Teknologi mRNA Vaksin COVID-19 Pfizer yang Diklaim Efektif 90 Persen

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Vaccine and syringe injection It use for prevention, immunization and treatment from COVID-19 Foto: Getty Images/iStockphoto/kiattisakch
Jakarta -

Vaksin Corona Pfizer diklaim efektif mencegah infeksi COVID-19 lebih dari 90 persen. Berbeda dengan yang lainnya, vaksin ini menggunakan teknologi rekayasa genetika yang bertujuan melihat genom RNA virus.

Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo menyebut pengembangan vaksin Corona dengan teknologi mRNA ini bisa lebih cepat. Sebab, ilmuwan nantinya hanya perlu melihat data sequence genom untuk kemudian menyalin protein spike virus Corona bagian terpenting.

"Percepatan pembuatan vaksin jauh lebih cepat, yang penting kita punya akses sequencenya saja, makanya dalam tempo tiga minggu itu mereka sudah punya vaksinnya, sudah bisa produksi vaksin, dalam artian kandidat ya," ungkapnya kepada detikcom Rabu (11/11/2020).

Namun, ilmuwan yang mengembangkan vaksin dengan teknologi mRNA pun memiliki tantangan dalam cara merekayasa protein spike. Mereka harus memikirkan bagian mana yang paling penting dalam protein spike tersebut.

"Potong itu harus pas bagian spikenya, jangan salah potong, mereka juga harus pikirkan daerah mana dari spike yang sangat penting," lanjutnya.

Meski begitu, Ahmad menjelaskan kelemahan teknologi mRNA yaitu vaksin yang dikembangkan sangat ringkih. Maka dari itu, vaksin tersebut juga harus disimpan dalam suhu hingga minus 80 derajat.

"Kelemahannya mRNA itu kan sangat labil, mudah degradasi," jelasnya.

"Karena gini di keringat kita aja kita punya enzim yang fungsinya itu mendegradasi RNA, jadi kalau misalnya nanti mRNA-nya ini, vaksin mRNA ini kepegang sama keringat kita segala macam, itu nanti langsung degradasi, langsung hancur, musnah dengan cepat sekali, karena ringkih sekali," kata Ahmad.

Ahmad menegaskan enzim sudah tidak bisa bekerja jika di luar suhu yang seharusnya. Hal ini menjadi perhatian dalam pengembangan vaksin dengan teknologi mRNA.

"Makanya didinginkan dengan suhu minus 80 itu untuk mengamankan kalau-kalauenzimnya ada masalah itu masih tetap dingin," pungkasnya.



Simak Video "Dimulai Hari Ini, Begini Momen Vaksinasi Corona Pertama di Singapura"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)