Rabu, 11 Nov 2020 10:46 WIB

Efektivitas Diklaim 90 Persen, Ini Bedanya Teknologi Vaksin COVID-19 Pfizer

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Dunia Sedang Uji Coba Vaksin COVID-19 Tahap 3, Siapa Terdepan? Ilustrasi suntik vaksin. (Foto: DW (News)
Jakarta -

Vaksin Corona Pfizer diklaim memiliki efektivitas hingga 90 persen untuk mencegah COVID-19. Vaksin ini diketahui memiliki teknologi yang berbeda dibandingkan dengan vaksin lain.

Menurut pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo, vaksin Corona Pfizer ini memiliki teknologi rekayasa genetika yang bertujuan melihat genom RNA virus. Hal ini dimaksud untuk memungkinkan virus nantinya menyalin protein spike virus Corona, bagian terpenting.

"Nah nanti yang diberikan ke manusia itu sebetulnya mRNA dari spike, sehingga nanti itu saat masuk ke sel manusia itu, sel manusia itu sendiri kan nggak tahu ini tuh mRNA dari spike atau sel manusia, yang penting ada mRNA kan," jelasnya saat dihubungi detikcom Selasa (11/11/2020).

"Nah mereka langsung proses, akhirnya sel itu bisa memproduksi protein spike, nah ketika diproduksi akhirnya itu bisa menyalakan respons imun, atau antibodinya," lanjutnya.

Menurut Ahmad, hal inilah yang membuat proses pengembangan vaksin Corona dengan teknologi mRNA memakan waktu singkat. Ilmuwan hanya perlu membaca sequence genom terlebih dulu dan 3 minggu berselang bisa menghasilkan bahan genetik yang nantinya disuntikkan.

"Spike yang mana yang ternyata akan menimbulkan menjadi protein spike, karena protein spikenya adalah inti, yang diperlukan virus untuk masuk ke manusia," jelasnya.

Apa bedanya dengan vaksin Corona Sinovac?

Ahmad menjelaskan proses pengembangan vaksin Corona Sinovac menggunakan platform inactivated virus. Tahapan proses pembuatannya dimulai dengan memiliki jenis virusnya terlebih dahulu, dengan cara dikultur dalam laboratorium.

Ia menjelaskan virus yang disuntikkan ke manusia itu utuh yang dirusak atau dimatikan secara genetik dengan bahan kimia, suhu panas atau radiasi.

"Kalau kita lihat membangun vaksin itu kita harus punya virus benerannya dulu kan, kita isolasi, itu nanti kita kultur, kita perbanyak di laboratorium, itu full virusnya, nah cuma kalau misalnya sebelum diinjeksikan bahaya kalau full virus," sebutnya.

"Makanya kita beri zat kimia supaya materi genetik di virus itu rusak, karena tujuan dari vaksin itu kan menambahkan injeksi materi protein sebetulnya yang juga dikenal dengan sistem imun," pungkasnya.



Simak Video "Rumor Vaksin COVID-19 Pfizer Bikin Mandul Dibantah oleh Pakar"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)
dRooftalk
×
Rentetan Bencana di Awal Tahun
Rentetan Bencana di Awal Tahun Selengkapnya