Sabtu, 21 Nov 2020 20:30 WIB

Begini Penanganan Ketika Ada Pemilih Mendadak Sakit saat Coblosan di TPS

Angling Adhitya Purbaya - detikHealth
Pemilih mendadak sakit di TPS Simulasi penanganan COVID-19 di TPS. (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikHealth)
Semarang -

Pemilu di masa pandemi COVID-19 membuat petugas TPS juga harus sigap jika terjadi kondisi medis darurat. Mereka dibekali petunjuk teknis untuk penanganan tersebut.

Simulasi pencoblosan dan rekapitulasi Pemilihan Wali Kota Semarang digelar hari ini di kantor Kecamatan Mijen Kota Semarang. Simulasi dilakukan mulai dari antrian masuk para pemilih agar jaga jarak kemudian dicek suhu oleh petugas.

Kemudian setelah mendaftar, pemilih cuci tangan dan masuk ke TPS. Sebelum mencoblos, pemilih juga mendapatkan sarung tangan plastik dan kemudian menggunakan hak pilih di bilik.

Setelah memasukkan surat suara dan kotak suara, kelingking para pemilih ditetesi tinta sebagai penanda. Keluar dari TPS, pemilih harus kembali mencuci tangan dan kemudian pulang.

"Ini merupakan upaya kita mengidentifikasi daftar isian masalah yang kira-kira ada. Dengan simulasi yang real seperti ini, kita tahu langkah kongkrit apa yang diambil," kata Ketua KPU Kota Semarang, Henry Casandra Gultom di lokasi, Sabtu (21/11/2020).

Dalam simulasi tersebut juga diperlihatkan kasus dimana pemilih yang saat datang suhu tubuhnya normal tiba tiba pingsan di TPS. Dua petugas TPS saat itu langsung sigap makai hazmat untuk antisipasi. Pemilih yang pingsan itu kemudian dibopong keluar dan dibawa tim medis.

Pemilih mendadak sakit di TPSPemilih mendadak sakit di TPS Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

"Tiap TPS ada baju hazmat tidak hanya hanya menolong yang sakit. Tapi kalau ada yang isolasi di rumah, sakit di rumah, atau isolasi di rumah dinas atau lainnya, ini untuk memastikan semua tahapan, semua kegiatan itu sudah sesuai protokol kesehatan. Iya didatangi (untuk yang isolasi) setelah jam 13.00 siang," jelas Henry atau yang kerap disapa Nanda itu.

Saat pemilihan di TPS, jika ditemukan ada yang suhu badannya di atas 37,3 derajat celcius maka ada bilik khusus untuk mencoblos. Nanda menegaskan berusaha maksimal agar hak suara tidak hilang.

"Dari awal mereka diukur suhu kalau di atas 37,3 di luar TPS, ada bilik," tandasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan koordinasi dengan petugas medis pasti dilakukan. Petugas puskesmas akan standby untuk TPS yang masuk di ruang lingkup puskesmas.

"Jadi misal kelurahan ada 25 TPS, muter nanti. Mereka (petugas puskesmas) memantau TPS di wilayah kerja mereka. Temen-teman KPU sudah dapatkan Juknis," kata Hakam.

Pjs Wali Kota Semarang, Tavip Supriyanto mengatakan simulasi tersebut dimaksudkan juga untuk meyakinkan warga Kota Semarang agar menggunakan hak pilih dan tidak khawatir penanganan penyebaran COVID-19 di TPS.

"Jadi simulasi ini akan disosialisasikan ke masyarakat, proses Pilwalkot, tata cara dan protokol kesehatannya sudah dibuat sedemikian rupa agar masyarakat aman, jadi tidak perlu khawatir. Ayo sukseskan Pilkada Semarang dengan jaga protokol kesehatan," jelas Tavip.

Simulasi yang digelar di Kecamatan Mijen tersebut didokumentasikan dalam bentuk video. Kemudian KPU akan mensosialisasikan kepada masyarakat lewat video tersebut.



Simak Video "Epidemiolog UI: Corona Lebih Penting Ketimbang Terlibat Pilkada"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)