Selasa, 24 Nov 2020 05:47 WIB

Round Up

Corona RI Tembus Setengah Juta, Gelombang Pertama Masih Belum Selesai

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Saat beberapa negara kembali mengalami lonjakan kasus COVID-19 dan menghadapi gelombang kedua hingga ketiga, Indonesia disebut masih belum usai mengatasi gelombang pertama Corona.

Sudah 9 bulan berlalu hingga kasus COVID-19 per Senin (23/11/2020) menembus setengah juta kasus, yaitu sebanyak 502.110 kasus positif akumulatif di Indonesia. Penambahan kasus harian terbanyak ada di 13 November dengan 5.444 kasus.

Pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman bahkan menyebut kasus Corona Indonesia masih jauh dari puncaknya. Strategi 3T (testing, tracing, treatment) salah satunya testing, disebut Dicky sejauh ini masih belum memadai.

Pasalnya, Dicky menyebut angka positivity rate Indonesia tak pernah menyentuh di bawah 10 persen. Hal ini menandakan laju penularan Corona di masyarakat sangat tinggi dan banyak kasus COVID-19 yang belum mampu ter-tracing atau terlacak.

"Berarti banyak orang yang terinfeksi namun tidak terdeteksi, namun tidak ditemukan orang-orang itu, berbahaya sekali sehingga ketika ada wacana pelonggaran-pelonggaran, keramaian-keramaian iya itu akan membuat gelombang kita ini makin tinggi," jelas Dicky saat dihubungi detikcom Senin (23/11/2020).

Dicky khawatir jika pengendalian kasus COVID-19 tak kunjung memadai, akan terjadi lonjakan kasus di tahun mendatang. Menurutnya, kasus COVID-19 yang belum teratasi juga akan berdampak pada vaksinasi.

"Namanya vaksinasi itu ada rumusnya untuk mencapai keberhasilannya, salah satunya adalah melandaikan kurva," tegas Dicky.

Dicky menyebut angka kasus COVID-19 di Indonesia sebetulnya sudah tiga kali lipat dari yang dilaporkan. Catatan ini merujuk pada hasil pemodelan epidemiologi.

"Harus diingat bahwa angka 500 ribu itu bukan yang sesungguhnya, saya sudah bilang bahwa angkanya bisa 3 kali lipat kok, 3 kali lipat dari 500 ribu ini, dan itu sesuai pemodelan epidemologi," ungkapnya.

"Di mana kasus harian (COVID-19) kita itu 10 ribu paling rendah estimasi hariannya. Artinya, angka 5 ribuan yang dilaporkan, ditemukan, itu masih setengah lebih rendah dari estimasi terendah, ini memang umum terjadi pada negara-negata yang kapasitas testingnya itu masih rendah," lanjutnya.

Menurut Dicky, setidaknya jika kurva Corona ingin dilandaikan, Indonesia harus mempu meningkatkan testing COVID-19. Minimalnya, per hari mampu mencatat 10 ribu kasus Corona.



Simak Video "Virus Corona Mengancam Kerusakan Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)