Selasa, 24 Nov 2020 20:00 WIB

Mengenal Epilepsi pada Anak, Deretan Gejala Awal hingga Cara Mengatasinya

Thalitha Yuristiana - detikHealth
A child being cared for during an epileptic seizure by a qualified special needs carer Cara mengatasi epilepsi pada anak. (Foto ilustrasi: Thinkstock)
Jakarta -

Kondisi kejang berulang pada anak disebut dengan epilepsi. Epilepsi terjadi ketika ada gangguan pada sistem saraf pusat atau aktivitas saraf di otak.

Jika dibiarkan, epilepsi pada anak akan mempengaruhi pertumbuhan, perkembangannya, dan kemampuan belajar anak.

Dikutip dari HaiBunda, Dr Setyo Handryastuti, SpA(K) menjelaskan bahwa epilepsi cukup sering dialami anak-anak. Biasanya, kejang berulang dua kali atau lebih tanpa penyebab adalah gejala umum yang kerap ditemukan.

"Kejang pada epilepsi tidak harus kejang kelojotan (bangkit) dan mengeluarkan busa. Serangan kejang dapat berupa kaku di seluruh tubuh, kejang kaku atau kelojotan sebagian lengan atau tungkai bawah," jelas Setyo.

"Kedutan di sebelah mata dan sebagian wajah, hilangnya kesadaran sesaat (anak tampak bengong atau seperti melamun), tangan atau kaki tiba-tiba tersentak atau anak tiba-tiba jatuh seperti kehilangan tenaga," lanjutnya.

Untuk mendeteksi epilepsi pada anak, dilakukan elektroensefalografi (EEG) guna melihat fokus kejang pada otak. Tak hanya itu, pemeriksaan ini juga berguna untuk melihat apakah ada penyebaran kejang ke daerah lain pada otak. Pemeriksaan ini menentukan obat antiepilepsi yang dapat diberikan serta risiko timbulnya penyakit lain akibat epilepsi.

Ada beberapa gejala yang ditunjukan oleh anak yang menderita epilepsi. Pertama, tatapan anak kosong yang terjadi secara mendadak.

Kedua, anak mengalami kejang secara mendadak dan menyebabkan hilangnya kesadaran selama 2 sampai 5 menit. Ketiga, munculnya kedutan dan keempat, anak menunjukkan peringatan sebelum kejang seperti pusing tanpa sebab.

Faktor penyebab munculnya epilepsi pada anak di antaranya:

1. Kurang atau rendahnya kadar oksigen saat dilahirkan. Kondisi ini disebut dengan cerebral hipoxia.

2. Anak mengalami cedera kelala saat proses persalinan, masa anak-anak, atau dewasa.

3. Tumor otak.

4. Faktor genetik yang mengakibatkan otak cedera. Contohnya tuberous sclerosis.

5. Infeksi seperti meningitis atau ensefaliti.

6. Stoke atau kerusakan otak lainnya.

7. Kadar abnormal zat-zat dalam tubuh, seperti natrium atau gula darah.

Orang tua tak perlu khawatir, lakukan cara ini untuk mengatasinya. KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA.



Simak Video "Klaster Keluarga Jadi Sumber Penularan Corona Pada Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)