Jumat, 27 Nov 2020 10:56 WIB

Apakah Kelelahan Termasuk Gejala COVID-19? Ini Faktanya

Ayunda Septiani - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto ilustrasi COVID-19. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencantumkan kelelahan sebagai gejala virus Corona COVID-19. Namun, bukan berarti setiap merasa lelah menandakan kamu terinfeksi COVID-19.

Lantas bagaimana mengetahui apakah kelelahan disebabkan oleh COVID-19 atau bukan?

Mengenai kelelahan akibat COVID-19 secara khusus, sebuah laporan pada Februari lalu yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganalisis 55.924 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi laboratorium di China. Ditemukan bahwa kelelahan adalah gejala paling umum ketiga dari COVID-19 dengan 38,1 persen orang yang mengeluhkan gejalanya.

Dua gejala yang lebih umum menurut laporan tersebut adalah demam 87,9 persen dan batuk kering 67,7 persen.

"Ini ada hubungannya dengan zat yang disebut sitokin yang diproduksi oleh sistem kekebalan ketika diserang," Richard Watkins, seorang dokter penyakit menular di Akron, Ohio, dan seorang profesor kedokteran di Universitas Kedokteran Northeast Ohio.

Sitokin tersebut memberi sinyal pada tubuh kamu bahwa inilah waktunya untuk bekerja dan melawan infeksi, tetapi akibatnya dapat membuat kamu merasa lelah. Bagaimanapun, tubuh kamu memfokuskan energinya untuk melawan penyerang (virus), bahkan jika kamu tidak dapat melihatnya.

dr Amesh Adalja, peneliti senior di Johns Hopkins mengatakan bahwa kelelahan yang disebabkan COVID-19 biasanya juga akan mengalami gejala lain, seperti nyeri otot, sakit tenggorokan dan sebagainya meski hanya terasa ringan.

Dikutip dari laman Health, meskipun kamu mengalami berbagai gejala tersebut, juga tidak bisa langsung disimpulkan bahwa kamu terpapar COVID-19.

dr Adalja merekomendasikan untuk melihat kelelahan yang kamu rasakan sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar.

"Kamu harus memikirkan mengapa kamu lelah. Apakah karena kamu lari maraton atau terlambat, belajar untuk ujian?" katanya.

Maka untuk sementara, berhentilah untuk berolahraga dengan intensitas berat dan jangan terlalu memaksakan diri. Karena tubuh kamu dengan jelas memberi isyarat bahwa kamu perlu istirahat.

Selain itu, konsultasikan pada dokter selalu menjadi pilihan yang bijak. Mereka mungkin ingin menguji kamu untuk COVID-19 atau melakukan pemeriksaan fisik, mengingat berbagai masalah kesehatan dan faktor gaya hidup juga dapat menyebabkan kelelahan pada tubuh.

Sebagai informasi, kelelahan akibat COVID-19 dapat bertahan cukup lama. Hasil studi yang dirilis pada bulan September lalu, menemukan bahwa ada 52 persen dari 128 pasien positif COVID-19 mengalami 'kelelahan terus-menerus' beberapa minggu setelah mereka didiagnosis. Terlepas dari mereka memiliki kasus COVID-19 yang ringan atau lebih parah.



Simak Video "Reaksi Kulit yang Bisa Terjadi Pada Pasien Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)