Senin, 30 Nov 2020 15:01 WIB

Kematian Maradona Menyisakan Kejanggalan, Terungkap dari Pengakuan Perawat

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Argentinas soccer star team captain Diego Maradona brandishes the World Soccer Cup won by his team after a 3-2 victory over West Germany on June 29, 1986 at the Azteca stadium in Mexico City. / AFP PHOTO / STAFF Diego Maradona, Piala Dunia 1986. ( Foto: STAFF/AFP)
Jakarta -

Seorang perawat yang ditugaskan untuk mengecek kondisi Diego Maradona mengaku ia tidak melakukan pemeriksaan di hari legenda sepak bola itu meninggal karena serangan jantung.

Pengungkapan ini menambah semakin banyak teka-teki terkait penyebab meninggalnya Maradona, termasuk klaim bahwa hidupnya masih bisa diselamatkan.

Perawat yang bekerja untuk legenda sepak bola tersebut mengatakan kepada penyidik bahwa ia berbohong jika memeriksa kliennya pada pagi saat Maradona meninggal.

Dalam sebuah laporan dari Mirror, para perawat yang bertugas mengatakan bahwa pada pukul 6.30 pagi waktu setempat, Maradona masih bernapas dengan normal. Kemudian perawat lain yang bertugas pada gilirannya mengatakan dia mendengar Maradona pergi ke toilet pada pukul 07.30 pagi waktu setempat tetapi tidak memeriksa ke kamarnya.

Ia kemudian mengklaim telah mencoba memeriksa tanda-tanda vital Maradona di pukul 9.20 pagi tetapi ditolak. Namun sebuah laporan menyatakan klaim tersebut merupakan sebuah kebohongan.

"Apa yang ditambahkan saksi ... adalah bahwa dia diminta untuk menulis dalam laporan untuk Medidom ... bahwa dia telah mencoba untuk memantau tanda-tanda vital Maradona namun kenyataannya dia membiarkannya beristirahat." ujar penyelidik.

Perawat mengatakan bahwa ketika dia melihat Maradona pada siang hari, waktu kritis saat ia hampur meninggal namun tidak responsif memberi pijat jantung atau resusitasi mulut ke mulut.

Pihak Medidom, firma medis yang menangani sang legenda sepak bola tersebut, belum menanggapi laporan yang dikeluarkan oleh Mirror.

Jaksa penuntut saat ini tengah menganalisis rekaman CCTV dari perkebunan tempat tinggal Maradona dan telepon genggam perawat yang menjaganya beberapa jam sebelum kematiannya.

Hasil awal post-mortem mengungkapkan Maradona meninggal setelah mengalami gagal jantung yang menyebabkan pembekuan darah.

Namun pengacara Maradona, Matias Morla, mengklaim legenda yang diberi julukan 'Tangan Tuhan' itu tidak menerima pemeriksaan medis dalam 12 jam terakhir. Dia juga mempertanyakan keputusan dokter yang mengizinkan Maradona meninggalkan rumah sakit hanya delapan hari setelah operasi otaknya.



Simak Video "Mengenal Ronapreve, Obat Covid-19 yang Diborong Australia"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)