Kamis, 03 Des 2020 18:05 WIB

Rekor Tembus 8 Ribu Kasus Harian COVID-19, Fenomena Gunung Es?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Upaya mengatasi penyebaran virus Corona terus dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Sejumlah bantuan pun diberikan guna mempercepat penanganan COVID-19. Tes yang lebih banyak bisa mengungkap kondisi wabah COVID-19 yang sebenarnya. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Indonesia kembali mencatatkan rekor kasus baru 8.369 kasus harian COVID-19 pada Kamis (3/12/2020). Tercatat jumlah spesimen yang diperiksa juga mengalami lonjakan, yakni sebanyak 62.397 spesimen.

Dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) mengatakan, rekor kasus baru ini berhubungan dengan peningkatan jumlah testing yang dilakukan. Makin banyak testing dilalukan, makin banyak kasus positif COVID-19 yang ditemukan.

"Sebenarnya hal yang biasa, kitanya saja yang kurang tes. Ini kita sebutnya fenomena gunung es. Jadi sebenarnya yang kita dapat selama ini yang kecil-kecil saja, yang di atas doang, bawahnya itu banyak," ujar Dr Pane saat dihubungi detikcom, Kamis (3/12/2020).

Pada hari ini, terhitung ada 62.397 spesimen yang diperiksa. Dr Pane menjelaskan, kalau saja jumlah testing yang dilakukan lebih banyak dari ini, mungkin kasus baru COVID-19 yang didapat bisa jauh lebih banyak.

Dr pane pun memberikan contoh perbandingan antara Italia dan Indonesia. Italia memiliki penduduk sekitar 60 juta orang, sementara penduduk Indonesia l4-5 kali lebih banyak, yakni 267 juta orang.

"Itu puncak (kasus) tertingginya Italia di angka 6 ribu sampai 7 ribu. Jadi kalau kita penduduknya 4-5 lebih tinggi mestinya puncak kita itu 28 ribu sampai 30 ribu sehari," jelasnya.

Meski begitu, Dr Pane mengatakan berapapun orang yang terdeteksi positif COVID-19 dalam sehari, sebaiknya segera dikarantina atau dirawat jika memiliki gejala yang berat, sehingga angka kematian Corona di Indonesia bisa tetap rendah.

Sementara itu, menurut juru bicara Satgas Pengendalian COVID-19 Wiku Adisasmito, rekor kasus baru ini disebabkan karena sistem pencatatan atau pelaporan kasus yang masih belum optimal. Contohnya Papua, ia menyebut 1.755 kasus baru di provinsi itu merupakan akumulasi tambahan kasus positif sejak tanggal 19 November hingga hari ini.

"Ada beberapa provinsi yang memiliki perbedaan data dengan pusat, seperti Jateng, Jabar dan Papua. Berdasarkan data dari kemenkes, pada hari ini terdapat penambahan kasus yang sangat signifikan, yaitu 8.369 kasus," jelas Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan di Sekretariat Presiden, Kamis (3/12/2020).

"Angka yang sangat tinggi ini disebabkan karena sistem yang belum optimal untuk mengakomodasi pencatatan, laporan, dan validasi data dari provinsi secara realtime," tambah Wiku.



Simak Video "Satgas Jelaskan Prosedur Penjemputan Pasien Positif Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)