Sabtu, 05 Des 2020 06:56 WIB

Cekrak-cekrek Puaskan Hasrat Narsis Para Pegowes Ibu Kota

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Penasaran kenapa foto para pesepeda keren-keren? Ini dia sosok-sosok fotografer yang rela rebahan di jalan hingga ngumpet di semak-semak dan pembatas jalan. Cekrak-cekrek puaskan hasrat narsis pesepeda (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Jakarta -

Bersepeda jadi salah satu gaya hidup sehat yang sangat populer di tengah pandemi COVID-19. Makin banyak orang yang bersepeda baik sebagai hobi baru atau untuk aktivitas sehari-hari.

Tapi siapa sangka tren bersepeda yang sedang naik daun ini bisa menjadi sumber penghasilan bagi yang lain. Seperti yang dilakoni para fotografer lepas yang tergabung dalam komunitas Dalkotloop, akun di media sosial Instagram yang mewadahi kebutuhan antara fotografer dan pesepeda.

Berangkat dari keisengan memotret pesepeda di area BSD, Tangerang Selatan, Yulius terpikirkan untuk menjadikan hobinya sebagai ladang penghasilan baru. Ia yang juga seorang pegiat olahraga sempat berbincang dengan anggota dari komunitas sepeda dan ternyata para pesepeda juga butuh konten foto untuk mengabadikan momen mereka.

"Awalnya kita melihat fenomena sepeda ini banyak, terus kami yakin mereka (pegowes) butuh konten untuk sosmednya. Kita kan lihat mereka kalau foto cuma pakai hp, nah kalau pakai hp, action mereka nggak mungkin terekam. Kalau pakai go-pro juga bisa bawa, tapi untuk capture moment kan susah," katanya.

Sambil memotret di area TVRI, Yulius bercerita awalnya memotret pegowes di area BSD dan mengajak beberapa rekannya yang kebetulan ia tahu terdampak pandemi. Kebanyakan fotografer yang tergabung di komunitas ini dulunya bekerja sebagai freelancer photographer perhelatan olahraga seperti marathon, sepeda, triathlon.

Penasaran kenapa foto para pesepeda keren-keren? Ini dia sosok-sosok fotografer yang rela rebahan di jalan hingga ngumpet di semak-semak dan pembatas jalan.Para pemuas hasrat narsis pegowes ibu kota. Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth

Ada juga yang dulunya fotografer lepasan di agenda pernikahan, acara musik, yang saat ini ditiadakan karena adanya pandemi COVID-19.

"Sekarang kan event nggak ada ya mau nggak mau kita cari cara gimana caranya (survive)," sebutnya.

Peksi, eks fotografer di salah satu media ternama di Indonesia, yang menjadi salah satu orang pertama yang tergabung dari komunitas ini, awalnya memutuskan untuk join karena melihat ada peluang yang cukup besar dari kegiatan yang mereka lakukan.

"Gue ngerasa di sini ada peluang yang ternyata antara komunitas dan kami sebagai content creator saling ngebutuhin," ujarnya yang sudah 15 tahun menekuni bidang fotografi olahraga ini.

Sembari fokus menatap jalan dan bersiap memotret pesepeda yang melintas, Peksi mengatakan tren bersepeda yang dilakoni oleh sebagian besar orang dibarengi keinginan menciptakan konten menarik bagi sosial media mereka.

Tak sedikit juga pesepeda yang membutuhkan konten visual untuk strava, aplikasi yang dimanfaatkan untuk merekam rute perjalanan dan kegiatan olahraga, salah satunya bersepeda.

"Di strava itu kan ada pencapaian, sehari udah berapa km, jaraknya ke mana aja, kadang di situ butuh foto cover. Nah peran kami di situ salah satunya, selain tentunya mereka pengin mendokumentasikan," ungkapnya.

Penasaran kenapa foto para pesepeda keren-keren? Ini dia sosok-sosok fotografer yang rela rebahan di jalan hingga ngumpet di semak-semak dan pembatas jalan.Sampai harus rebahan di pinggir jalan. Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth

Baik Peksi dan Yulius mengatakan semakin banyak fotografer lepasan yang akhirnya gabung bersama mereka, menjadi street photographer pegowes. Bahkan saat ini sudah banyak fotografer yang tersebar di beberapa sudut Jakarta untuk mengabadikan momen pegowes.

Sebenarnya tak hanya di Dalkoot, sebutan untuk rute sepeda area Sudirman-TVRI-Thamrin-Kuningan, mereka juga biasa 'mangkal' di area Tangerang yang disebut Mozia loop dan Bintaro loop. Bahkan awal mula komunitas ini disebut terbentuk di Mozialoop.

Biasanya sehabis memotret, mereka mengedit foto atau sekadar makan bareng di warung Mie Ayam belakang Hotel Century, GBK. Di tempat itu juga biasanya mereka bertemu dengan komunitas sepeda, tak jarang juga pegowes yang langsung menanyakan apakah mereka punya foto bagus untuk dibawa pulang.

Ditemui di kawasan Senayan, Dina, 50 tahun, salah satu pegowes, mengaku cukup sering membeli foto dirinya. Tak cuma membeli dari satu fotografer, kadang dua sampai tiga orang, lalu ia pilih sendiri untuk di post ke media sosialnya atau menjadi momen epik yang ia simpan di galeri ponselnya.

"Kan keren tuh kita lagi sepedaan terus difoto sama mereka. Aku sering sih ngambil foto, suka borong," ucapnya.

Ini kan juga bisa beri mereka lapangan pekerjaan, jadi ada feedbacknya. Kita seneng, mereka dapat hasil jerih payahnya. Jadi saling menghargai dan saling support," pungkasnya.

Penasaran kenapa foto para pesepeda keren-keren? Ini dia sosok-sosok fotografer yang rela rebahan di jalan hingga ngumpet di semak-semak dan pembatas jalan.Terjawab kan, kenapa foto para pesepeda keren-keren? Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth


Simak Video "Pesan Buat Pegowes Pemula dari dr. Falla Adinda"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)