Minggu, 06 Des 2020 06:57 WIB

Kisah Haru Perawat di Bandung Rawat Anak-Bayi Pasien COVID-19

Siti Fatimah - detikHealth
Tangan pasien anak Foto ilustrasi: Thinkstock
Bandung -

Penyebaran virus Corona COVID-19 tak memandang kelompok usia. Virus menginfeksi tidak hanya orang dewasa dan orang tua, tapi juga anak-anak bahkan bayi yang baru lahir (neonatus).

Beragam pengalaman dirasakan oleh para tenaga medis selama menangani pasien Corona anak-anak dan bayi. Dengan segala hambatan dan rintangannya, tenaga medis tetap bertahan dengan memberikan pelayanan berharap para pasien dapat sembuh total dan menjalani kehidupan seperti biasanya.

Seperti pengalaman dari salah satu perawat Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) ruang Kemuning (ruang isolasi COVID-19), Yani Setiasih (43). Dia menceritakan berbagai hal suka dan duka merawat pasien anak-bayi baru lahir yang terpapar Corona.

Rasa haru bercampur saat ia menerima pasien bayi yang baru saja dilahirkan tapi tidak bisa menerima ASI atau dipeluk oleh ibunya karena positif COVID-19. Dengan menggunakan baju hazmat, Yani membopong bayi tersebut untuk masuk ke ruangan isolasi.

"Saat menerima bayi bugar, dan sebetulnya bisa dipeluk ibunya, dikasih ASI (Air Susu Ibu) langsung. Terus terang sedih, karena saya juga seorang ibu. Bagaimana perasaanya saat lahir harus dipisahkan dari ibunya, padahal sudah ditunggu-tunggu dari sembilan bulan, ternyata harus dipisahkan karena covidnya," kata Yani saat diwawancara detikcom beberapa saat lalu.

Memang bagi ibu hamil dengan riwayat Corona, bayinya akan diperiksa terlebih dahulu agar dapat dipastikan bebas dari virus atau tidak. "Jadi dilakukan pemeriksaan rapid dan swab atau PCR. Bila dua kali PCR negatif boleh pulang atau pindah ke ruangan bayi non-isolasi," jelasnya.

Lain halnya jika yang ia rawat adalah anak-anak berusia lima tahun ke bawah. Mereka sudah dapat melihat dan merasakan kehadiran tenaga kesehatan (nakes).

Saat Yani atau perawat dan dokter lain masuk ke ruangan pasien COVID-19, reaksi anak-anak berubah menjadi rasa takut karena memakai alat pelindung diri (APD) lengkap layaknya astronot.

"Perasaan saya sedih, dan saya yakin anak-anak juga perkembangannya terganggu, terutama psikologisnya. Karena diruangan hanya berdua dengan ibunya. Banyak yang nangis dan teriak-teriak tiba-tiba ada dokter dan perawat menggunakan baju astronot masuk ke ruangan," katanya.

Hambatan demi hambatan dilalui Yani, terutama saat merawat pasien anak-anak. Karena ia tidak hanya harus memperhatikan asupan vitamin, tapi juga memiliki tugas untuk menstimulus tumbuh kembang anak dan bayi.

"Saya sudah berusaha menstimulus bagi anak-anak tapi mereka selalu tutup mata karena ketakutan. Beda dengan bayi, saya stimulasinya dengan pijatan dada, perut, punggung untuk merangsang pertumbuhan. Karena bayi kan tidak bisa melihat kita dan tidak akan takut," jelasnya.

Selama ini, jika pasien COVID-19 adalah anak-anak, Yani mengatakan sang anak akan dirawat dengan ibunya. Ibu dari anak pasien dalam pengawasan akan menjalani berbagai tes, baru kemudian ditempatkan diruangan yang sama dengan anaknya.

"Kebanyakan hasilnya negatif, dan masih perlu membutuhkan perawatan lebih lanjut basic penyakit awal (bukan covid) baru dipindahkan ke ruangan. Disesuaikan dengan kebutuhannya," pungkasnya.



Simak Video "Virus Corona Mengancam Kerusakan Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(bbn/fds)