Kupas Tuntas Vaksin COVID-19 Sinovac Biotech, Vaksin Corona Pertama RI

ADVERTISEMENT

Round-Up

Kupas Tuntas Vaksin COVID-19 Sinovac Biotech, Vaksin Corona Pertama RI

Firdaus Anwar - detikHealth
Selasa, 08 Des 2020 07:35 WIB
Vaksin Corona dari Sinovac disimpan di Bio Farma usai tiba di Indonesia pada Minggu (6/12) malam. Sampel vaksin kemudian akan dites BPOM.
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac Biotech disimpan di gudang Bio Farma. (Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin COVID-19 yang dikembangkan Sinovac Biotech sudah tiba di Indonesia pada hari Minggu (6/12/2020). Rencananya akan ada jutaan dosis vaksin lagi yang menyusul secara bertahap.

"Kita juga masih mengupayakan 1,8 juta dosis yang tiba di awal Januari," tutur Presiden Joko Widodo dalam konferensi pers yang disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Berikut fakta-fakta vaksin COVID-19 buatan Sinovac Biotech:

1. Dibuat dari virus 'mati'

Sinovac Biotech mengembangkan vaksin COVID-19 dengan platform inactivated virus alias virus yang sudah dilemahkan. Menurut Sekretaris Eksekutif Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Dr dr Julitasari Sundoro, MSc-PH, vaksin yang dikembangkan dengan metode ini bisa memiliki risiko efek samping yang kecil.

"Vaksin yang tiba ini adalah vaksin yang inactivated, vaksin yang mati. Jadi efek sampingnya itu jauh lebih kecil dari vaksin-vaksin lain yang live attenuated atau vaksin-vaksin hidup," kata dr Julitasari dalam diskusi Tolak dan Tangkal Hoaks yang disiarkan kanal Youtube Forum Merdeka Barat 9, Senin (7/12/2020).

Efek samping vaksin COVID-19 Sinovac Biotech dilaporkan, seperti reaksi nyeri lokal, pegal-pegal, hingga demam ringan yang akan reda sendiri.

2. Tahapan uji klinis

Sinovac Biotech telah melaksanakan uji klinis vaksin pada bulan April hingga Mei 2020 lalu. Hasilnya telah dipublikasi di jurnal ilmiah The Lancet pada 17 November dengan kesimpulan bisa dilanjutkan ke uji klinis tingkat III.

Uji klinis tingkat III dilakukan di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Ketua tim peneliti dari Universitas Padjadjaran, Profesor Kusnandi Rusmil, mengatakan sejauh ini uji klinis vaksin berjalan lancar.

Tidak dilaporkan adanya efek samping serius pada 1.620 relawan yang berpartisipasi.

"Tidak kami temukan hal-hal menakutkan, paling panas dan demam dalam 2 hari hilang," kata Prof Kusnandi yang menyebut perlu waktu sampai enam bulan untuk bisa melihat efek perlindungan vaksin.

3. Harga vaksin COVID-19 Sinovac Biotech

Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto mengungkap harga per dosis vaksin COVID-19 Sinovac berada di kisaran RP 200 ribu. Hal ini ia sampaikan dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI beberapa waktu lalu.

"Harga per satuan, hasil dari BPKP, LKPP dan KPK, bahkan Kejaksaan Rp 211.282 per dosis. Ini untuk program murni, bukan vaksinasi pribadi, ini untuk 3 juta vaksin pertama," ujarnya.

4. Menunggu Emergency Use Authorization (EUA)

Meski vaksin COVID-19 Sinovac Biotech sudah tersedia di Indonesia, program vaksinasi tidak bisa langsung dimulai begitu saja. Vaksin harus terlebih dahulu mendapatkan izin darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

BPOM menyebut EUA dapat digunakan dalam kondisi darurat ketika tidak ada lagi alternatif terapi yang sudah berizin. Hanya saja untuk menjaga standar dan keamanan, BPOM tetap memerlukan data terbaru dari uji klinis yang telah berjalan.

Kepala BPOM, Penny K Lukito, menjelaskan kemungkinan EUA untuk vaksin COVID-19 Sinovac Biotech tidak bisa diberikan sampai akhir tahun 2020 karena data yang belum lengkap.

"Karena kami sudah mendapatkan informasi dari Brasil bahwa mereka tidak bisa memberikan, juga Sinovac tidak bisa memberikan sehingga tidak lengkap, dan berdasarkan data yang ada tentu kami tidak bisa memberikan emergency use authorization pada Desember 2020," kata Penny.

5. Disimpan Bio Farma

Vaksin secara umum harus disimpan di tempat penyimpanan khusus yang dingin agar tidak mudah rusak. Nah vaksin COVID-19 Sinovac diketahui datang ke Indonesia dengan menggunakan kontainer Envirotainer RAP e2 dan disimpan di cool room milik PT Bio Farma.

Cool room disebut bersuhu 2-8 derajat celsius dan sudah disterilisasi.

"Dikirim ke gudang Bio Farma dengan pengawalan TNI-Polri, Insya Allah sekarang sudah sampai," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani seperti dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Presiden.



Simak Video "Booster Kedua untuk Lansia Direstui, Bagaimana dengan Masyarakat Umum?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT