Selasa, 08 Des 2020 09:17 WIB

Perlu Tahu, Ini 7 Mitos Keliru Seputar Virus Corona COVID-19

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Mitos keliru seputar virus Corona COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Mitos tentang virus Corona COVID-19 masih kerap beredar di masyarakat. Terlebih arus penyebaran informasi di internet yang begitu cepat dan tak terbendung membuat masyarakat mudah termakan berita yang belum diketahui pasti kebenarannya.

Sebuah studi mengatakan kesalahan informasi tentang COVID-19 bisa menyebabkan risiko serius di masyarakat, terlebih pada saat pandemi seperti ini.

Dijelaskan oleh dokter pengobatan keluarga Neha Vyas, MD. Berikut 7 mitos keliru seputar COVID-19 yang perlu kamu tahu, dikutip dari Health Essentials Cleveland Clinic.

1. Tak perlu memakai masker di luar ruangan

Risiko tertular COVID-19 saat di luar ruangan memang lebih rendah, namun kemungkinan itu tetap ada.

Mikrodroplet bisa berada di udara luar dan menyebar dengan cepat dalam kondisi angin kencang, sehingga risiko terpapar COVID-19 saat berada di luar ruangan bisa terjadi.

2. Tak perlu mengikuti pedoman karena terus berubah

Virus Corona disebut 'novel' karena ini adalah virus baru yang tidak biasa. Dokter, perawat, dan ilmuwan tidak belajar mengenai COVID-19 di sekolah kedokteran atau selama pelatihan.

Informasi yang datang pun sangat cepat dan kita perlu menanggapinya dengan bijak.

Jika dibandingkan dengan informasi yang ada di bulan Maret saat awal pandemi, tentunya saat ini kita tahu lebih banyak mengenai virus Corona. Maka dari itu, kita perlu belajar dalam hal pencegahan dan pengobatan virus tersebut.

3. Pengidap COVID-19 punya harapan hidup 99 persen

Sebenarnya infeksi virus Corona bisa mematikan dan menyebabkan efek jangka panjang yang serius.

Meski tingkat kematian akibat COVID-19 pada orang yang sehat dan kelompok usia muda terbilang rendah, namun kelompok tersebut tetap punya kemungkinan mengalami sakit yang parah karena virus.

Pada sakit flu mungkin gejalanya hanya bertahan selama 4-5 hari. Namun, gejala COVID-19 bisa berlangsung lebih dari 10 hari dan berisiko memicu komplikasi jangka panjang yang serius, seperti pembekuan darah, masalah neurologis, kerusakan pada jantung, paru-paru, dan ginjal.

Secara umum, angka kematian berubah berdasarkan usia dan masalah medis lainnya.

4. Masker masih efektif jika hanya menutupi mulut

Mulut dan hidung itu terhubung satu sama lain. Jadi saat bersin, batuk, atau bernapas, kita menggunakan keduanya.

Maka dari itu, masker haruslah menutupi mulut dan hidung, bukan hanya salah satunya saja.

Menurunkan masker di bawa hidung bisa berisiko terpapar partikel virus, yang berpotensi menular lewat udara di sekitar, serta membuat orang lain juga terkena percikan droplet dari kita.

5. Orang sehat tak perlu memakai masker

Seringkali orang tak sadar telah menyebarkan virus karena mereka hanya mengalami gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali.

Hal ini bisa berbahaya jika orang tersebut merasa dirinya sehat dan tidak mengenakan masker atau menjaga jarak sosial lalu menyebarkan virus ke orang lain.

6. Lebih baik tertular COVID-19 dan terbiasa dengan virus

COVID-19 bukanlah penyakit seperti pilek atau flu biasa. Ini lebih menular pada populasi tertentu dan meningkatkan penyakit serta komplikasi, berbeda dari penyakit biasa.

Virus Corona juga bisa memicu kerusakan permanen pada otak, jantung, paru-paru, dan ginjal. Hingga kini belum diketahui dengan pasti apakah seseorang dapat kebal dari COVID-19 atau tidak jika sudah pernah terinfeksi sebelumnya.

7. Tes COVID-19 tidak dapat dipercaya

Para ahli setuju bahwa tes COVID-19 sangat sensitif dan akurat. Kekeliruan atau kesalahan pada hasil tes medis bisa terjadi, tetapi jarang.

Secara umum, sebagian besar tes COVID-19 memiliki tingkat akurat hingga 90 persen.

Testing yang tidak akurat biasanya disebabkan oleh waktu dan sampel. Misalnya, seseorang mungkin memiliki viral load atau jumlah virus yang sangat rendah saat hari-hari pertama terinfeksi atau selama bagian akhir infeksi, sehingga virus tidak dapat terdeteksi dengan baik saat dites.

Apabila sampel yang dikumpulkan buruk, itu juga bisa menyebabkan hasil yang tidak akurat.



Simak Video "Kemenkes Tegaskan Vaksin Masih Efektif Hadapi Varian Virus India"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)