Minggu, 13 Des 2020 16:00 WIB

Mual-Diare Bisa Jadi Gejala COVID-19, Ini Bedanya dengan Sakit Perut Biasa

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi BAB Diare karena COVID-19? Begini tanda-tandanya. (Foto ilustrasi: thinkstock)
Jakarta -

Selain gejala batuk dan demam, pasien COVID-19 juga kerap mengalami masalah gastroenteritis yaitu mual, muntah, hingga diare. Kondisi ini bahkan cukup umum dialami beberapa pasien Corona.

Meski begitu, tampak sulit membedakan mana yang disebabkan karena COVID-19 dengan yang tidak. Hal ini dikarenakan mual, muntah, dan diare juga bisa ditemukan di beberapa penyakit lain.

Dikutip dari Health, gastroenteritis terjadi ketika lapisan usus seseorang meradang. Pemicunya bisa dikarenakan paparan virus atau adanya parasit hingga bakteri, menurut MedlinePlus.

Beberapa pasien yang mengalami gejala gastroenteritis termasuk pasien COVID-19 juga mengeluhkan demam hingga sakit kepala. Berikut detail gejala yang muncul karena kondisi ini.

  • Diare
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Panas dingin.

Baca juga: Catat! 2 Gejala Baru Virus Corona yang Diidentifikasi Ahli

Seberapa bahaya gejala gastroenteritis pada pasien COVID-19?

Sebuah penelitian menunjukkan gejala gastroenteritis pada pasien COVID-19 termasuk tanda infeksi awal. Selain diare, beberapa pasien COVID-19 mengalami mual diikuti batuk dan demam pada hari pertama hingga hari kedua usai terpapar Corona.

Beberapa pasien Corona bahkan di Indonesia banyak mengeluhkan kondisi ini. Dikutip dari covid19.go.id, ada 14,4 persen pasien mengalami mual, 6,4 persen sakit perut dan 5,9 persen mengalami diare.

Lantas bagaimana membedakan masalah gastroenteritis karena COVID-19?

Menurut Tania Elliott, spesialis penyakit menular di NYU Langone, ada beberapa gejala COVID-19 khas seperti kehilangan kemampuan penciuman dan perasa, hingga batuk atau nyeri dada. Gejala COVID-19 tersebut secara umum tidak muncul di penyakit lainnya.

"Pasien umumnya tidak mendapatkan gejala ini jika disebabkan karena flu atau penyakit lain," jelasnya.

"Jika seorang pasien diketahui pernah terpapar COVID-19, gejala-gejala ini jauh lebih memprihatinkan. Pada akhirnya, sangat sulit untuk mengetahui secara klinis pembebanya, dan satu cara terbaik untuk mengetahui perbedaannya adalah dengan melakukan tes virus corona," kata Dr Elliott.



Simak Video "Cara Tingkatkan Saturasi Oksigen Bagi Pasien Covid-19 yang Obesitas"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)