Selasa, 22 Des 2020 14:05 WIB

Menyusui ASI di Masa Pandemi, Bolehkah?

Content Promotion - detikHealth
Mecosin Indonesia Foto: Mecosin Indonesia
Jakarta -

Di Indonesia, jumlah pasien positif COVID-19 sampai dengan saat ini mencapai 664.930 kasus (data per 20 Desember 2020). Jumlah tersebut termasuk penambahan harian sebanyak 6.982 kasus positif baru dari hari sebelumnya (19 Desember 2020).

Bunda hamil (Bumil) dan Bunda menyusui (Busui) adalah kelompok yang rentan terhadap virus COVID-19. Beberapa riset menyatakan bahwa Bumil dan Busui cenderung rentan terhadap infeksi virus dikarenakan adanya perubahan hormon selama masa kehamilan maupun menyusui, yang berpengaruh terhadap kekebalan tubuhnya.

Pandemi COVID-19 turut berdampak kepada para Busui. Busui menjadi ragu-ragu memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif karena khawatir, akibat Busui terkonfirmasi COVID-19. Padahal tidak diragukan lagi bahwa ASI eksklusif merupakan nutrisi penting yang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak.

ASI direkomendasikan agar diberikan hingga anak berusia 2 tahun. Faktanya pada bayi berusia 6-8 bulan, 2/3 kebutuhan energinya dipenuhi melalui ASI. Sedangkan pada bayi usia 9-12 bulan, ASI memenuhi 1/2 dari kebutuhan energinya. Lain lagi pada anak 1-2 tahun, ASI memenuhi 1/3 dari kebutuhan energinya.

Mecosin IndonesiaFoto: Mecosin Indonesia

ASI sebagai makanan terbaik untuk bayi merupakan sumber nutrisi utama yang sempurna karena mengandung protein sebesar 6%, karbohidrat 39%, dan lemak 55% yang dapat langsung diserap oleh tubuh. Dalam ASI juga terdapat kandungan zat protektif yaitu immunoglobulin A (IgA) yang manfaat imunitasnya dapat langsung dirasakan oleh anak.

Demikian juga dengan zat laktoferin, lisozim, lactobacillus bifidus, dan berbagai zat gizi lainnya yang tidak hanya berperan meningkatkan daya tahan tubuh anak agar kuat melawan berbagai virus, penyakit, infeksi juga menjadi proteksi terhadap alergi ataupun penyakit. Menurut sebuah penelitian dengan pemberian ASI eksklusif setidaknya selama 6 bulan, dapat menekan risiko alergi pada anak sampai dengan 50%.

Busui Terkonfirmasi Positif COVID-19, Amankah Menyusui?

Menurut World Health Organization (WHO) hingga saat ini belum ada bukti atau laporan kasus transmisi vertikal Busui kepada anak melalui ASI. Belum pernah ditemukan virus COVID-19 dalam ASI Busui yang terkonfirmasi positif. Ayo berikan edukasi pada Busui di sekitar Anda, agar para Busui (termasuk Busui dengan COVID-19) tetap menyusui secara langsung dengan menerapkan protokol kesehatan sebagai berikut ini:

  1. Menjaga kesehatan pernapasan dan menggunakan masker ketika menyusui untuk mencegah percikan air liur mengenai anak pada saat berbicara, batuk, dan bersin,

  2. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh anak dengan air mengalir dan sabun guna membunuh virus Corona yang mungkin menempel pada tangan,

  3. Rutin membersihkan permukaan yang sering disentuh dengan disinfektan, dan

  4. Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.

Mecosin IndonesiaFoto: Mecosin Indonesia

Jika Busui yang terjangkit COVID-19 merasa tidak sehat untuk menyusui langsung, proses menyusui dapat dilakukan dengan cara aman berikut ini:

  1. Melakukan isolasi mandiri,

  2. Tidak melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini),

  3. Melakukan rawat terpisah sementara,

  4. Memberikan ASI perah melalui pumping sehingga tidak ada kontak langsung dengan anak,

  5. Mencari atau meminta donor ASI dari Bunda yang sehat,

  6. Setelah masa isolasi mandiri berakhir, diharapkan agar Busui dapat menyusui kembali (relaktasi) dengan langkah-langkah menyusui berikut ini:

  • Menyesuaikan posisi perlekatannya yaitu dagu si bayi menyentuh payudara, mulut terbuka lebar, bibir bawah terlipat keluar, sebagian besar areola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit pada puting.

  • Melakukan skin to skin contact yakni Busui melakukan sentuhan/kontak langsung antara kulit dengan bayi.

Mecosin Indonesia Foto: Mecosin Indonesia

Komitmen LANCAR ASI Untuk Lancarkan Kasih Ibu

Bersamaan dengan Hari Ibu Nasional yang diperingati hari ini, tanggal 22 Desember 2020, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) bersama PT Mecosin Indonesia mengapresiasi perjuangan dan kerelaan hati para Bunda dalam menyusui buah hati khususnya yang memutuskan memberikan ASI eksklusif. Tentunya tidak mudah bagi para Busui dan bahkan mungkin sering menemui berbagai kendala dalam menjalankan komitmen memberikan nutrisi terbaik bagi anak Bunda.

LANCAR ASI dari PT Mecosin Indonesia berkomitmen sejak tahun 1997 mendampingi para Bunda di seluruh Indonesia untuk turut melancarkan kasih ibu melalui ASI. LANCAR ASI mengandung 200 mg Ekstrak Daun Katuk (EDK) yang di dalamnya terdapat kandungan zat polyphenol.

Zat ini terbukti dapat meningkatkan kerja hormon prolactin yang berfungsi meningkatkan produksi ASI. Jika Anda memiliki kenalan Busui yang bermasalah dengan produksi ASI, jangan ragu merekomendasikan LANCAR ASI yang sudah menolong ribuan Busui di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan komitmen PT Mecosin Indonesia sebagai perusahaan herbal terbaik di Indonesia yang telah puluhan tahun dipercaya menjaga kesehatan masyarakat Indonesia, demi mewujudkan terciptanya generasi penerus bangsa yang sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang baik. Selamat Hari Ibu bagi Bunda menyusui di seluruh Indonesia. Salam sehat selalu.

(ads/ads)