Minggu, 27 Des 2020 11:00 WIB

Susul Singapura, Negara Asia Ini Catat 5 Kasus Pertama Varian Corona Inggris

Zintan Prihatini - detikHealth
Virus Corona terbaru atau Sars-Cov-2 yang menjadi penyebab COVID-19 memang berbahaya. Tapi tampilannya di bawah mikroskop bisa sangat bertolak belakang. Varian baru Corona. (Foto ilustrasi: NIAID)
Jakarta -

Jepang telah mengonfirmasi lima kasus pertama dari varian baru Corona dari Inggris yang menular lebih cepat. Hal itu disampaikan Perdana Menteri Yoshihide Suga saat mengimbau warga negara Jepang untuk merayakan tahun baru dengan tenang.

Menteri Kesehatan Jepang Norihisa Tamura mengumumkan temuan kasus virus Corona baru pada Jumat malam. Ia pun mengatakan bahwa perdana menteri menyerukan tindakan karantina yang ketat di bandara, terlebih bagi mereka yang baru kembali dari Inggris.

Sementara itu, Jepang telah melarang orang yang baru melakukan perjalanan dari Inggris, kecuali warga negara Jepang yang kembali dan mereka memiliki izin tinggal.

Momen tahun baru adalah hari libur nasional yang diperpanjang di Jepang karena biasanya banyak masyarakat melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman, dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman. Pada Jumat lalu, Perdana Menteri Jepang Suga menyerukan tahun baru dengan tenang tanpa pertemuan yang biasanya dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang masih terus meningkat.

Ia mengumumkan bahwa telah menyiapkan paket sejumlah US$ 2,6 miliar untuk rumah sakit yang merawat pasien COVID-19 karena meningkatnya kasus terkonfirmasi Corona di pulau bagian utara Hokkaido serta kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka.

"Saya ingin Anda menghabiskan tahun baru yang tenang," ujar perdana menteri dalam konferensi pers di Tokyo dikutip dari Aljazeera.

Jubir pemerintah Jepang Shigeru Omi terkait COVID-19 mengingatkan bahwa penyebaran infeksi virus Corona tak kunjung turun, dan warga negara harus ikut berpartisipasi dalam mencegah penyebarannya bersama dengan pemerintah. Ia pun menegaskan, pengendalian penyebaran virus Corona akan memakan waktu lebih lama.

"Semua warga negara harus bergerak ke arah yang sama," ujar Omi.

"Jika kita tidak menurunkan tingkat infeksi sekarang, begitu virus melonjak lagi setelah periode tahun baru, tidak akan mudah untuk menurunkannya," tandasnya.

Omi mengatakan makan bersama adalah penyebab penularan infeksi yang signifikan dan meminta masyarakat untuk menahan diri agar tidak mengadakan jamuan makan bersama dengan banyak orang. Saat ini Jepang memiliki jumlah kasus harian baru melampaui 3.000 orang untuk pertama kalinya di bulan ini.

Tokyo melaporkan 884 kasus infeksi pada Jumat, mendekati rekor pada Kamis yang berjumlah 888 kasus. Pemerintah Jepang telah sepakat untuk membeli 290 juta dosis vaksin Corona dari Pfizer, AstraZeneca dan Moderna yang diperkirakan cukup untuk 145 juta orang.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan orang berusia 65 tahun ke atas harus menjadi prioritas untuk divaksin. Selain itu, petugas kesehatan, dan orang-orang dengan kondisi medis bawaan termasuk penyakit jantung kronis, penyakit pernapasan kronis dan penyakit ginjal kronis harus diprioritaskan.

Atas dasar keputusan tersebut, akan ada 36 juta orang tua dan 8,2 juta orang dengan kondisi medis menjadi yang pertama menerima suntikan di Jepang.



Simak Video "Tips Melindungi Diri dari Virus Corona B117"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)