Minggu, 27 Des 2020 14:34 WIB

Balita 3 Tahun Alami Stroke Usai Dinyatakan Positif COVID-19, Ini Kisahnya

Zintan Prihatini - detikHealth
White bandage on babys right heel Balita berusia 3 tahun mengalami stroke usai dinyatakan positif COVID-19. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Anak berusia 3 tahun asal Missouri, Amerika Serikat, mengalami stroke setelah dinyatakan positif COVID-19. Hal itu disampaikan keluarganya yang khawatir akan kehilangan anak laki-laki bernama Colt itu.

"Kami pikir kami pasti akan kehilangan dia," ujar ayah Colt, Tim Parris dikutip dari Fox News.

"Saya tidak peduli seberapa tangguh kalian, kalian akan menangis. Anda tidak dapat menahannya ketika anak yang berusia 3 tahun terbaring di sana," tambah Parris.

Sang ibu, Sara Parris mengatakan bahwa pada minggu lalu Colt berhenti makan dan minum. Lalu ia membawanya ke klinik setempat untuk dites COVID-19 dan hasilnya negatif. Dokter di klinik tersebut merekomendasikan Colt untuk dibawa dan diperiksa ke rumah sakit.

Setelah dites di University of Missouri Women's and Children's Hospital, Colt dinyatakan positif COVID-19. Berdasarkan keterangan Sara, putranya yang berusia tiga tahun itu kehilangan kemampuan untuk menggerakkan lengan kanan dan kaki kanannya bahkan kesulitan berbicara.

"Saya memberinya (boneka binatang) Boo miliknya dan saya perhatikan bahwa dia tidak menggunakan lengan yang biasanya digunakan untuk meraihnya. Dia mengulurkan tangan untuk meraih kelincinya, kemudian saya tahu ada yang salah," ujar Sara Parris.

Dokter dengan cepat menjalankan tes dan menemukan ada penyumbatan di otak balita itu yang kemungkinan berasal dari efek neurologis akibat COVID-19.

"Diagnosis COVID penting karena menurut kami alasan mengapa pasien dengan COVID, termasuk anak-anak yang mengalami stroke dan berbagai masalah lainnya," papar ahli saraf yang merawat Colt, dr Camilo Gomez.

Virus Corona telah dikaitkan dengan beberapa kondisi neurologis. Penelitian yang dilakukan pada Juli lalu mengidentifikasi kondisi tersebut sebagai stroke, delirium, kerusakan saraf, dan kondisi peradangan otak langka yang dapat berisiko fatal.

"Yang berbeda di sini adalah seorang anak kecil, seperti yang saya sebutkan sebenarnya tidak ada kasus seperti ini," jelas ahli saraf anak dr Paul Carney.

Ia menegaskan efeknya mungkin akan berbeda pada pasien yang berusia antara 40 hingga 60 tahun.

Di sisi lain, Sara Parris mengatakan bahwa dia tidak yakin dimana Colt awalnya tertular virus, karena dia dan suaminya memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di rumah saat pandemi.

"Kami tidak keluar dan karena itu kami berpikir tidak mungkin terkena COVID karena kami tidak berada di sekitar siapa pun," pungkasnya.

Saat ini Colt sedang dalam proses pemulihan. Ia akan membutuhkan rehabilitasi untuk mengembalikan gerakan di lengan maupun kaki kanannya, dan akan menggunakan pengencer darah atau aspirin selama enam bulan ke depan.



Simak Video "Tindak Lanjut Satgas soal 3.830 Orang Positif Covid-19 Berkeliaran"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)