Selasa, 29 Des 2020 09:01 WIB

Ahli Mikrobiologi Unpad Angkat Bicara Soal Mutasi Virus Corona

Siti Fatimah - detikHealth
Ilustrasi Tes Swab Mutasi virus Corona (Foto: Ilustrator: Mindra Purnomo)
Bandung -

Baru-baru ini, sejumlah negara melaporkan adanya kasus mutasi baru dari virus Corona. Mutasi baru dari virus Corona disebut lebih menular dibanding varian virus terdahulu.

Ahli Mikrobiologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Dr Mia Miranti mengatakan, virus Corona termasuk ke dalam kelompok virus RNA. RNA merupakan salah satu jenis dari asam nukleat yang menjadi ciri bahwa virus dikategorikan sebagai makhluk hidup.

Dia mengatakan, hasil penelitian di beberapa jurnal ilmiah menyebut bahwa kelompok virus RNA mudah mengalami mutasi. Menurutnya ketika virus Corona menginfeksi satu tubuh inang, maka RNA-nya akan melakukan replikasi atau berkembang biak.

"Replikasi virus ini tidak ada yang tidak menyebabkan penyakit pada inangnya, karena dia akan mengambil alih sistem kerja sel inang untuk proses reproduksi dia," ujar Mira dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (29/12/2020).

Lebih lanjut, jika dikaitkan dengan COVID-19, Mira menyebut bahwa virus Corona sebenarnya sudah sering mengalami mutasi. Mutasi dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan sel inangnya. Sejak dari Wuhan, Tiongkok, virus Corona sudah mengalami mutasi sehingga dia mampu bertahan pada rentang suhu 5-10 derajat Celcius.

Dia mengatakan, ketika menyebar ke Iran dan kawasan Timur Tengah, diperkirakan bahwa virus telah mengalami mutasi kembali yang memungkinkan virus tahan terhadap suhu panas.

Virus Corona di Indonesia sendiri sudah mengalami mutasi. Laporan dari Eijkman Institute beberapa waktu lalu menemukan bahwa virus Corona di Indonesia memiliki strain yang berbeda dengan virus di Wuhan.

"Hanya saja proses mutasinya tidak seperti yang sekarang lagi heboh di Inggris," ujarnya.

Pengajar di Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan llmu Pengetahuan Alam ini menyebut, ada kemungkinan proses mutasi di Inggris dipengaruhi oleh beberapa faktor, sehingga kemungkinan infeksinya lebih tinggi. Dengan kata lain, mutasi suatu virus bisa jauh lebih berbahaya jika dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Karena mutasi setiap virus dipengaruhi oleh faktor inangnya, Mira berpendapat bahwa pengembangan vaksin mestinya disesuaikan dengan hasil mutasi virusnya.

"Vaksin COVID-19 di Indonesia seharusnya disesuaikan dengan karakter virus yang ada di Indonesia," pungkasnya.



Simak Video "Kemenkes Tekankan Vaksin COVID-19 Masih Efektif Tangkal B117"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)