Jumat, 01 Jan 2021 21:00 WIB

Mengenal Parosmia, Gejala Baru COVID-19 yang Beda Lagi dari Anosmia

Kanya Anindita - detikHealth
Woman Holding Dirty Stinky Shoes Covering Her Nose Setelah anosmia, kini ada parosmia yang juga menjadi gejala COVID-19 (Foto: iStock)
Jakarta -

Hilangnya kemampuan untuk mencium aroma atau anosmia merupakan salah satu gejala COVID-19 sejak lama. Baru-baru ini muncul gejala baru berupa parosmia, yakni kondisi yang membuat pasien mendeteksi bau tidak sedap lewat indra penciuman.

Ahli bedah telinga, hidung dan tenggorokan (THT) dari ENK UK, Profesor Nirmal Kumar, menyebutkan parosmia merupakan gejala aneh sekaligus unik pada COVID-19. Pasien biasanya menghirup aroma belerang dan benda terbakar lainnya sehingga mengganggu indra penciuman.

Dikutip dari Sky News, Gejala COVID-19 awalnya berupa anosmia atau kehilangan indra penciuman. Gejala ini sudah dideteksi sejak bulan Maret 2020.

Profesor Kumar mengatakan beberapa pasien COVID-19 di Inggris yang awalnya mengidap anosmia, kini mengalami parosmia sehingga penciuman mereka cukup terganggu. Parosmia juga dikatakan sebagai gejala panjang COVID-19, di mana kondisi ini dapat berlanjut selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah penyakit awal.

"Virus ini memiliki keterkaitan dengan saraf di kepala dan khususnya, saraf yang mengontrol indra penciuman. Mungkin memengaruhi saraf lain juga, seperti neurotransmiter yang mengirim pesan ke otak," ungkapnya.

Daniel Savedki, seorang bankir berusia 24 tahun yang tinggal di London, mengatakan dia kehilangan indra perasa dan penciumannya selama dua minggu setelah tertular virus corona pada bulan Maret. Kini ia pun mengidap parosmia sehingga tidak bisa mencium bau makanan tertentu.

Untuk menghilangkan parosmia, pasien bisa melatih indra penciuman seperti menghirup aroma minyak kayu putih selama 20 detik. Hal ini bertujuan agar indra penciuman normal kembali.



Simak Video "Ada Gejala Baru Covid-19 Bernama Parosmia, Apa Itu?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)