Jumat, 08 Jan 2021 15:40 WIB

Kata BPOM Soal Beda Hasil Uji Efektivitas Vaksin Sinovac Turki-Brasil

Firdaus Anwar - detikHealth
Petugas melakukan bongkar muat vaksin COVID-19 Sinovac setibanya di Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Denpasar, Bali, Selasa (5/1/2021). Sebanyak 31.000 dosis vaksin COVID-19 Sinovac yang tiba di Bali tersebut pada vaksinasi tahap awal diprioritaskan untuk tenaga kesehatan yang akan dilakukan pada 22 Januari 2021 mendatang. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa. Vaksin Corona Sinovac. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
Jakarta -

Vaksin COVID-19 buatan Sinovac mendapat perhatian karena jadi vaksin Corona pertama yang rencananya digunakan di Indonesia. Vaksin akan mulai disuntikkan ketika mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Kepala BPOM, Penny K. Lukito, menjelaskan EUA bisa diberikan setelah ada data uji klinis tingkat tiga yang menilai efikasi vaksin. Turki dan Brasil diketahui sudah melaporkan hasil uji klinis tersebut dengan data efikasi sekitar 78-91 persen.

Turki menyebut efikasi vaksin COVID-19 sinovac mencapai 91 persen, sementara Brasil menyebut efikasi vaksin COVID-19 Sinovac mencapai 78 persen.

Menurut Penny, perbedaan hasil uji nilai efikasi tersebut bisa terjadi karena beberapa faktor yang unik di tiap negara. Oleh karenanya hasil pengujian tidak bisa dibandingkan secara langsung.

"Perbedaan efikasi antara uji klinik vaksin yang berbeda-beda di setiap negara tidak bisa dibandingkan. Artinya karena dipengaruhi faktor perbedaan jumlah subjek, pemilihan populasi subjek, karakteristik subjek, dan kondisi lingkungan masing-masing," papar Penny dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual pada Jumat (8/1/2021).

"Namun yang terpenting, kalaupun ada perbedaan nilai efikasi, regulasi persyaratan dari WHO adalah lebih besar dari 50 persen efikasi telah terpenuhi," lanjutnya.



Simak Video "Ramai Vaksin Sinovac Vs AstraZeneca, Ini Kata Pakar Imunisasi"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)