Jumat, 15 Jan 2021 06:50 WIB

Efikasi Vaksin Sinovac di Brasil Merosot Jadi 50,4 Persen, Kok Bisa Berubah?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Penyuntikan vaksin Corona Sinovac telah dimulai di Indonesia. Seperti di Puskesmas Cilandak, petugas sudah memulai memberikan vaksin kepada warga. Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Brasil merevisi nilai efikasi vaksin Corona Sinovac sebesar 50,4 persen usai pekan sebelumnya mengklaim angka 78 persen. Turunnya angka efikasi ini berdasarkan masuknya perhitungan kelompok gejala ringan pada hasil uji vaksin Sinovac.

Rentang perbedaan yang sangat jauh memunculkan pertanyaan angka mana yang kini dijadikan acuan? Menurut pakar farmakologi dan farmasi klinis, Prof Dr Zullies Ikawati, Apt, perbedaan angka yang dilaporkan kemungkinan overkalkulasi, tetapi tentu data terbaru yakni efikasi 50,4 persen yang kini jadi acuan di Brasil.

"Informasi awal kan memang 78 persen kemudian tiba-tiba dikoreksi jadi 50 kan. Saya agak kaget tapi tidak heran," katanya saat dihubungi detikcom Kamis (14/1/2021).

"Efikasi itu kan bukan harga mati ya, karena tergantung dari pengamatan dan sebagainya, saya nggak tahu persis apa yang terjadi pada Brasil ya, mungkin apakah terkait dengan transparansi atau jangan-jangan mungkin yang angka awal itu overcalculated atau overkalkulasi," bebernya.

Lebih lanjut, Prof Zullies menjelaskan tingginya efikasi terpengaruh pada jumlah kasus positif yang dihitung dalam uji coba. Jika seluruh kasus terkonfirmasi positif COVID-19 dimasukkan, termasuk misalnya kasus OTG (orang tanpa gejala), efikasi pun akan semakin menurun.

"Iya karena untuk mendapatkan EUA (emergency use authorization) di sana bahkan di seluruh negara kan WHO, FDA, masing-masing negara kan 50 persen udah bisa, 50 persen lebih sedikit kan nggak apa-apa," katanya.

Lantas bagaimana jika efikasi vaksin Sinovac di Indonesia dalam beberapa bulan pemantauan ke depan menurun?

Prof Zullies menegaskan hal itu hanya akan berdampak pada jumlah orang yang akan divaksin Corona. Sebab, tujuan vaksinasi COVID-19 adalah mencapai herd immunity.

"Iya memang nanti kan enam bulan ke depan angka 65,3 persen sangat mungkin bisa berubah karena kan jumlah kasusnya bisa bertambah, either di tempat yang divaksin maupun yang tidak, cuman dari sini angka itu nanti hanya akan mempengaruhi berapa banyak populasi yang harus divaksin," bebernya.

Sebelumnya, banyak kalangan memperbandingkan hasil uji coba vaksin Corona Sinovac di Brasil saat efikasi mencapai 78 persen, sedangkan di Indonesia hanya 65,3 persen. Namun, menurut pakar biomolekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, data yang diambil hanya sebagai data pendukung.

"Yang Brasil mungkin sebagai pertimbangan aja, menguatkan bahwa Brasil dan Turki juga sebagai data pendukung, Tetapi BPOM (badan pengawas obat dan makanan) saya lihat mendapatkan efikasi tetap dari uji klinis yang di Bandung," jelasnya saat dihubungi terpisah.



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)