Sabtu, 30 Jan 2021 10:26 WIB

Serba-serbi Virus Nipah yang Diwaspadai Bisa Jadi Pandemi Berikutnya

Firdaus Anwar - detikHealth
Virus Nipah dikhawatirkan dapat jadi ancaman munculnya pandemi baru di dunia. Selain karena angka kematian yang tinggi, virus itu diketahui belum ada obatnya. Virus Nipah diduga berasal dari kelelawar. (Foto: Getty Images/Lauren DeCicca)
Topik Hangat Ancaman Virus Nipah
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan virus Nipah ke dalam 10 besar daftar patogen dalam pantauan. Alasannya virus ini disebut-sebut punya potensi memicu kedaruratan, jadi pandemi berikutnya di Asia.

Dikutip dari World Organisation for Animal Health (OIE), virus Nipah diketahui pertama kali teridentifikasi pada babi ternak di Malaysia dan Singapura tahun 1998-1999. Virus Nipah pada hewan menyebabkan gejala gangguan pernapasan dan saraf.

Sementara itu, kasus infeksi pertama pada manusia dilaporkan terjadi tahun 1999. Seorang pasien dilaporkan mengalami kondisi peradangan pada otak (ensefalitis) akibat infeksi virus Nipah.

"Nama Nipah diambil dari nama salah satu desa di Malaysia tempat orang pertama yang terinfeksi virus tersebut tinggal dan akhirnya meninggal dunia," tulis OIE dan dikutip pada Sabtu (30/1/2021).

Cara virus Nipah menular

Kasus infeksi pada manusia umumnya terjadi lewat kontak langsung dengan hewan, artinya seseorang terpapar ketika melakukan kontak fisik dengan cairan tubuh atau kotoran hewan yang sakit. Sebagai contoh laporan di Bangladesh menyebut kasus-kasus kemungkinan orang terinfeksi saat mengonsumsi makanan dari pohon yang tercemar kotoran kelelawar.

Namun demikian, beberapa laporan juga menyebut virus bisa menular antar manusia.

"Transmisi manusia ke manusia pernah dilaporkan terjadi di antara keluarga dan antara penyedia layanan kesehatan dengan pasien yang sakit," tulis WHO.

Gejala virus Nipah

Virus Nipah bisa menyebabkan berbagai gejala ketika menginfeksi manusia, mulai dari masalah pernapasan akut, kejang-kejang, sampai peradangan otak yang fatal. Menurut WHO gejala biasanya dimulai dari demam yang diikuti oleh rasa mual dan pusing.

"Tingkat kematian dari virus Nipah diprediksi sekitar 40-75 persen, tapi ini bisa bervariasi dalam tiap kemunculan wabah tergantung dari kemampuan pemantauan dan manajemen klinis suatu area," kata WHO.

Pengobatan virus Nipah

WHO mengakui sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang menargetkan virus Nipah secara spesifik. Terapi biasanya diberikan hanya untuk mengatasi gejala yang muncul.

"Pelayanan intensif direkomendasikan bila menghadapi gejala gangguan pernapasan parah dan komplikasi gangguan saraf," ungkap WHO.



Simak Video "5 Fakta Virus Nipah yang Dikhawatirkan Jadi Pandemi Baru Asia"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)
Topik Hangat Ancaman Virus Nipah