Jumat, 05 Feb 2021 20:26 WIB

Ingin Sukses Program Bayi Tabung? Ini Faktor-faktor yang Menentukan

Vidya Pinandhita - detikHealth
ilustrasi sperma Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan bayi tabung (Foto: iStock)
Jakarta -

Gangguan kesuburan atau infertilitas mungkin menjadi kekhawatiran bagi pasangan yang tengah mendambakan anak. In Vitro Fertilization (IVF) atau "bayi tabung" mungkin menjadi pertimbangan bagi pasangan yang alami infertil alias mandul. Namun, berapa besar potensi keberhasilannya?

IVF adalah metode mempertemukan sperma dan sel telur di luar tubuh. Setelah terjadi pertemuan, embrio yang terbentuk akan diimplantasikan ke dinding rahim ibu. Walhasil, pasangan yang mengalami gangguan kesuburan masih memiliki potensi untuk hamil dan punya keturunan.

Akan tetapi, IVF kerap dipertanyakan keberhasilannya lantaran masih banyak kasus pasangan gagal punya anak meski sudah menjalani prosedur bayi tabung.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultasi Fertilitas, Endokrinologi, dan Reproduksi Yassin Yanuar Mohammad meluruskan, metode IVF memang tidak seratus persen menjamin kehamilan, melainkan hanya sekitar 30 - 40 persen. Akan tetapi, cara itu bisa membantu pasangan yang memiliki masalah sel telur atau sperma, sehingga kesempatan untuk memiliki keturunan tidak seratus persen tertutup.

"Basis bayi tabung memberikan peluang keberhasilan 30 sampai 40 persen, sama seperti potensi reproduksi dalam keadaan sehat. Terapi ini menyajikan peluang keberhasilan, mengembalikan kondisi kesuburan," jelasnya dalam webinar infertilitas baru-baru ini.

Menurut dr Yassin, di samping terapi, terdapat faktor lain yang memengaruhi tinggi-rendahnya potensi keberhasilan IVF. Faktor pertama pada wanita adalah usia. Pasalnya semakin tua usia wanita, semakin kecil potensi suburnya, semakin kecil pula potensi keberhasilan terapi IVF.

Pada pria, infertilitas bisa berupa jumlah sperma terlalu sedikit, kemampuan berenang sperma terlalu lemah, bentuk dan ukuran sperma tidak sesuai, genetik, atau penyakit tertentu.

Misalnya azoospermia di mana cairan mani dari ejakulasi tidak mengandung sperma. Dokter Yassin menyebutkan, kondisi ini kerap jadi pendorong pasangan memutuskan jalani IVF.

"Kita perlu melihat faktor suami, bagaimana spermanya? Kita harus upayakan sperma terbaik dari segi jumlah, kemampuan berenang, atau bentuk, ukuran. Kondisi genetik juga kita periksa, kita lihat apakah faktor genetiknya banyak yang rusak," terang dokter Yassin.



Simak Video "Penjelasan Ahli Soal Mitos Seputar Bayi Tabung"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)