Sabtu, 06 Feb 2021 15:36 WIB

Dialami Prof Firmanzah Sebelum Wafat, Benarkah Vertigo Mematikan?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Prof. Ilya Avianti Komisaris PT PLN, Prof. Firmanzah Rektor Paramadina dan Algooth Putranto Ketua Insani Madina Graduate School Universitas Paramadina saat diskusi di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (28/2/2018). Diskusi ini membahas kemitraan pemerintah, bisnis dan masyarakat madani pencegahan korupsi. Prof Firmanzah meninggal dunia. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Rektor Universitas Paramadina Prof Firmanzah meninggal dunia pagi ini. Ia disebut mengalami vertigo sebelum meninggal.

Hal ini disampaikan salah satu dosen Paramadina, Hendri Satrio. "Benar, meninggal pagi ini. Kabar dari pihak keluarga karena vertigo," kata Hendri, dikutip dari CNNIndonesia.

Lantas, benarkah vertigo berbahaya hingga memicu kematian?

Dokter spesialis saraf Rimawati Tedjasukmana menjelaskan, sebenarnya vertigo adalah gejala bukan penyakit.

Vertigo yang bisa berujung kematian adalah jenis vertigo sentral, yang biasanya disebabkan oleh stroke karena sumbatan pembuluh darah, pendarahan atau pecah pembuluh darah, tumor, infeksi, atau peradangan.

Vertigo sentral disebabkan kelainan di otak kecil (cerebellum) atau batang otak.

"Biasanya vertigo sentral lebih lama (berlangsungnya). Mual atau muntah jarang, tidak tergantung perubahan posisi tubuh. Bisa ada kelainan saraf lain seperti kelemahan lengan, tungkai, baal, kesemutan, dan gangguan keseimbangan," terang dr Rimawati saat dihubungi detikcom, Sabtu (6/2/2021).

Gejala pada vertigo sentral memang mirip dengan jenis vertigo yang lebih ringan yakni vertigo perifer. Akan tetapi, vertigo sentral berlangsung lebih lama.

Vertigo sentral sebagai gejala stroke ini bisa timbul tiba-tiba, tanpa perkiraan batas waktu sebelum stroke terjadi. Vertigo ini timbul sebagai gejala sehingga bisa terjadi walaupun seseorang belum pernah memiliki riwayat stroke sebelumnya.

"Bisa gejala stroke berupa vertigo. Jadi bisa sebelumnya tidak pernah stroke," ujar dr Rimawati.

dr Rimawati menambahkan, orang yang mengalami vertigo sentral harus cepat ditangani dengan tepat. Pasalnya, vertigo sentral ini kerap merupakan gejala stroke sehingga bisa berujung fatal jika penanganan terlambat.

"Jenis vertigo yang berdampak fatal adalah vertigo sentral. Jadi harus cepat didiagnosis supaya bisa cepat ditangani," imbuhnya.

Berbeda halnya dengan vertigo perifer yang mungkin dialami anak muda atau orang dewasa. Vertigo ini bukanlah gejala stroke, melainkan disebabkan oleh trauma kepala atau infeksi telinga.

Sedangkan pada lansia, vertigo perifer bisa disebabkan oleh faktor degeneratif atau perubahan fungsi organ karena proses penuaan.



Simak Video "Aice & Kemendikbud Bagikan 2 Juta Masker untuk Sekolah Tatap Muka"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)