Jumat, 12 Feb 2021 07:58 WIB

Sudah Sembuh 3 Bulan, 'Alumni' COVID-19 Boleh Vaksin? Ini Faktanya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Kemenkes mencatat 132.004 orang tenaga kesehatan di Indonesia sudah disuntik virus Corona. Angka itu adalah 22 persen dari total 598.483 Nakes yang akan divaksin. Vaksinasi COVID-19 (Foto: Ari Saputra)
Jakarta -

Hadirnya vaksin COVID-19 menjadi harapan baru untuk mengakhiri pandemi. Namun para penyintas atau survivor saat ini masih masuk dalam pengecualian, belum boleh menerima vaksinasi.

Ini tertuang dalam petunjuk teknis pelaksanaan vaksinasi COVID-19 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. Riwayat terkonfirmasi positif menjadi satu dari beberapa kriteria yang membuat seseorang tidak boleh divaksin.

Namun harapan baru muncul ketika Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) mengeluarkan rekomendasi terbaru pada 9 Februari 2021. Salah satu poin rekomendasinya menyebut syarat yang harus dipenuhi, yakni sudah sembuh minimal 3 bulan.

"Kabar baik juga sudah diberikan dari PAPDI melalui rekomendasinya, bahwa penyintas COVID-19 setelah sembuh minimal 3 bulan itu bisa diberikan vaksinasi," kata juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, dalam webinar 'Ayo Kita Divaksinasi Covid-19', Selasa (9/2/2021).

Rekomendasi PAPDI

Rekomendasi lengkap PAPDI terkait vaksinasi COVID-19 adalah sebagai berikut:

1. Untuk individu dengan komorbid, maka kriteria berikut merupakan keadaan yang belum layak untuk dilakukan vaksinasi Coronavac:

a. Reaksi alergi berupa anafilaksis dan reaksi alergi berat akibat vaksin Coronavac dosis pertama ataupun akibat dari komponen yang sama yang terkandung pada vaksin Coronavac.

b. Penyakit autoimun sistemik, seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE), Sjogren, Rheumatoid Arthritis, Vaskulitis. Khusus untuk tiroid autoimun, penyakit autoimun hematologi dan inflammatory bowel disease (lBD) layak vaksinasi selama remisi dan terkontrol, konsultan dengan dokter di bidang terkait.

c. Individu yang sedang mengalami infeksi akut. Jika infeksinya sudah teratasi maka dapat dilakukan vaksinasi Coronavac. Pada infeksi TB, pengobatan OAT perlu minimal 2 minggu untuk layak vaksinasi.

d. Kanker darah, kanker tumor padat, kelainan darah seperti talasemia, imunohematologi, hemofilia, gangguan koagulasi maka kelayakan dari individu dengan kondisi ini ditentukan oleh dokter ahli di bidang terkait, konsultan terlebih dahulu sebelum pemberian vaksin Coronavac.

e. Individu yang menggunakan obat imunosupresan, sitostatika dan radioterapi.

f. Penyakit kronik (seperti PPOK dan asma, penyakit jantung, penyakit metabolik, hipertensi, gangguan ginjal) yang sedang dalam kondisi akut atau yang belum terkendali

2. Kondisi yang berada di luar kriteria di atas, maka layak untuk diberikan vaksin Coronavac.

3. Penyintas COVID-19 jika sudah sembuh minimal 3 bulan, maka layak diberikan vaksin COVID-19

4. Untuk individu dengan usia >59 tahun, kelayakan vaksinasi Coronavac ditentukan oleh kondisi frailty (kerapuhan) dari individu tersebut yang diperoleh dari kuesioner RAPUH (keterangan dibawah). Jika nilai yang diperoleh diatas 2, maka individu tersebut belum layak untuk
dilakukan vaksinasi Coronavac.

Namun ditegaskan, rekomendasi terkait vaksinasi COVID-19 tersebut hingga saat ini masih akan dikaji dan belum menjadi kebijakan. Selengkapnya, simak di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]