Rabu, 17 Feb 2021 19:33 WIB

Sembuh dari COVID-19, Wanita Ini Keluhkan Gejala yang Tak Kunjung Hilang

Ayunda Septiani - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto ilustarsi. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Seorang wanita asal India, Aniruddha Dutta menceritakan pengalamannya saat terinfeksi virus COVID-19 dan merasakan efeknya dalam jangka panjang.

Pada 18 Desember 2020 lalu, Aniruddha mengalami gejala mirip alergi musiman yang membuat hidungnya tersumbat. Kemudian, ia mencoba mengatasi kondisinya menggunakan anti alergi dan minum antibiotik.

Tak lama, ia justru mengalami demam dan batuk berdahak yang encer. Tapi, ia tidak menduga bahwa itu gejala virus Corona COVID-19 karena bisa menahan napas lebih dari 1 menit.

Bahkan obat cetirizine dan parasetamol yang dikonsumsinya pun cukup ampuh untuk meredakan sedikit gejalanya.

Sampai akhirnya, ia berinisiatif untuk tes RT PCR pada 23 Desember 2020 karena ia akan bepergian naik pesawat pada 25 Desember 2020 ke India. Tetapi, ia justru mendapat hasil tesnya positif COVID-19 pada 24 Desember 2020 lalu.

Dokter pun menyarankan agar ia tidak panik dan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinannya. Akhirnya, Aniruddha memilih untuk isolasi mandiri di rumah dan tetap mengkonsumsi obat yang telah diresepkan dokter.

"Bagi kami, rumah sakit harus menjadi pilihan terakhir ketika tidak bisa lagi menjalani isolasi dan pengobatan di rumah," ujar Aniruddha dikutip dari laman Times of India.

Aniruddha pun memberitahu peralatan dan obat apa saja yang orang butuhkan ketika isolasi mandiri di rumah akibat virus COVID-19.

Ia menyarankan seseorang harus memiliki termometer, instrumen BP, dan oksimeter selama isolasi mandiri di rumah. Adapun obat-obatan yang diresepkan dokter untuk pasien COVID-19, biasanya vitamin C, seng, vitamin D, cetirizine, azitromisin, obat batuk, dan parasetamol.

Namun, seseorang tidak bisa memutuskan sendiri obat yang dikonsumsinya sendiri ketika terinfeksi COVID-19. Aniruddha menyarankan selalu konsultasi dengan dokter.

Di samping pengobatan yang telah ditentukan dokter, kamu bisa mengonsumsi jeruk nipis, kiwi, jambu biji atau makanan bergizi dan bervitamin lainnya.

Setelah 5 hari isolasi mandiri, ia mengaku gejala ringannya perlahan hilang tetapi ia merasa sangat lemah. Bahkan ia sempat jatuh pingsan di kamar mandi selama beberapa waktu.

Pada hari ketujuh dan kedelapan isolasi mandiri, dokter menyarankan untuk X Ray dada. Beruntungnya, dari hasil X Ray tidak menunjukkan Aniruddha memiliki tanda-tanda pneumonia. Tetapi, ia harus istirahat selama 4 hari lagi.

Setelah dinyatakan membaik, Aniruddha langsung melakukan perjalanan kerja ke Qatar beberapa hari kemudian. Saat itulah Aniruddha merasa kondisinya sangat lemah karena efek jangka panjang virus corona.

Ia menderita masalah gastrointestinal parah, yang membuatnya diare hingga sedikit berdarah dan sempat mengalami halusinasi.

Selain Aniruddha merasakan diare dan halusinasi, ia juga terkena infeksi saluran kemih (ISK) yang terus berkembang. ISK ini ditandai dengan nyeri saat buang air kecil, demam ringan hingga tinggi, dan masalah pernapasan.

Karena pengalamannya itu, Aniruddha menyadari pentingnya pakai masker untuk mencegah penularan virus Corona. Apalagi ada orang dengan virus Corona yang masuk dalam kelompok asimptomatik.



Simak Video "Yuk Kenali Lagi Beda Gejala DBD dan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/up)