Jumat, 19 Feb 2021 16:09 WIB

Cerita di Balik Vaksin 'Joglosemar', Nama Awal Vaksin Nusantara dr Terawan

Vidya Pinandhita - detikHealth
vaksin nusantara Vaksin Nusantara awalnya dinamakan Vaksin Joglosemar (Foto: Angling/detikHealth)
Jakarta -

Vaksin Nusantara untuk COVID-19 yang diprakarsai mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) tengah jadi perbincangan. Sebelumnya, vaksin ini sudah pernah muncul dengan nama 'Joglosemar'.

Vaksin berbasis sel dendritik ini sudah pernah diperkenalkan pada Desember 2020. Dalam rilis yang dibuat oleh Rama Pharma, nama ini terdiri dari kata 'Joglo' rumah tradisional masyarakat Jawa dan 'Semar' tokoh pewayangan Jawa. Vaksin ini diklaim mendapat dukungan dari Menteri Kesehatan waktu itu, Terawan Agus Putranto.

Kini, vaksin tersebut telah menjalani uji klinis tahap 1 dan kembali diperkenalkan, kali ini dengan nama baru. Dari semula Vaksin Joglosemar, kini menjadi Vaksin Nusantara. Soal perubahan nama ini, humas Rama Pharma Raditya Mohammer Khadaffi menolak berkomentar.

"Untuk pemilihan nama dan rebranding mungkin lebih detil langsung ke Bapak Terawan. Mungkin beliau mengerti lebih dalam," ujarnya saat dihubungi detikcom, Jumat (19/2/2021).

Selain bersifat personalized dan individual, vaksin Nusantara diklaim efektif untuk segala usia dari anak-anak, lansia, hingga orang dengan penyakit komorbid.

Disebutkan, sel dendritik merupakan komponen sistem imun. Sel ini dikembangbiakan di luar tubuh, kemudian dikembangbiakan menjadi vaksin COVID-19 dengan pembentukan antibodi.

Akan tetapi, vaksin baru ini dikritisi sejumlah ahli lantaran penggunaan sel dendritik dinilai terlalu rumit. Selain itu, pembiayaan untuk teknologi sel dendritik juga disebut mahal.

"Kalau kita membuat dendritik sel itu sebagai basic untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai vaksin saya rasa secara keilmuan ini akan sangat luar biasa sulit dan mungkin bisa jadi mahal. Itu dari sisi manufacturing, pembuatannya," ujar ahli penyakit tropik dan infeksi dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Erni Juwita Nelwan, SpPD dalam konferensi pers FKUI Study Recovery di Indonesia, Jumat (19/2/2021).

Hingga kini, vaksin Nusantara masih menunggu hasil evaluasi uji klinis Fase 1 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk bisa lanjut ke Fase 2.

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menyebutkan, belum ada kepastian soal kapan hasil evaluasi vaksin Nusantara bisa dikeluarkan.

"Kami baru menerima hasil uji klinik Fase 1-nya, jadi masih dievaluasi oleh timnya direktur registrasi dari BPOM dengan tim ahli untuk kelayakan apakah bisa segera kita keluarkan protokol untuk uji Fase 2-nya karena hasil dari Fase 1-nya baru kami terima," ujarnya dalam konferensi pers.

Lantaran diproduksi sendiri, vaksin Nusantara diklaim bisa menggenjot kembali ekonomi Indonesia. Pasalnya, teknologi sel dendritik yang dipasok oleh AIVITA Biomedical Inc. akan dikembangkan dengan alat dan bahan pasokan sendiri, didukung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes).

"Rama Pharma yang akan produksi setelah uji klinis semuanya tuntas. Serta siapkan kit-nya untuk vaksin Nusantara (Vaknus) ini. Semua bahannya lokal," imbuh humas Rama Pharma.



Simak Video "Soal Vaksin Nusantara yang Diprakarsai Terawan, BPOM: Kami Kawal"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)