Sabtu, 20 Feb 2021 08:18 WIB

FDA: Pulse Oximeter Bukan Alat Pendeteksi Virus Corona

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Woman hand introduced in a oximeter to check oxygen levels and pulse because Covid-19 pandemic Pulse oximeter. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Juanmonino)
Jakarta -

Pulse oximeter, alat mengukur kadar oksigen dalam darah, tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis atau mendeteksi COVID-19. Hal ini disampaikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada Jumat (19/2/2021).

Pada bulan Januari, Organisasi Kesehatan Dunia memasukkan penggunaan oximeter untuk mengidentifikasi pasien yang mungkin memerlukan rawat inap dalam saran klinisnya untuk mengobati COVID-19.

Tetapi FDA mengatakan perangkat ini tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis COVID-19, dan disarankan untuk tidak mengandalkannya untuk menilai kondisi kesehatan.

Dikutip dari laman Reuters, Badan kesehatan AS mengatakan perangkat itu mungkin berguna untuk memperkirakan kadar oksigen dalam darah, tetapi beberapa faktor dapat memengaruhi keakuratan pembacaan oximeter, seperti sirkulasi yang buruk, pigmentasi kulit, ketebalan kulit, suhu kulit, penggunaan dan penggunaan tembakau sampai penggunaan cat kuku.

Peringatan ini muncul hampir dua bulan setelah sebuah penelitian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa oximeter tiga kali lebih mungkin memberikan pembacaan yang salah di antara pasien Afrika-Amerika.

Selama pandemi, oximeter tersebut juga telah menjadi barang yang banyak terjual secara online, digunakan oleh orang untuk memantau kadar oksigen mereka sendiri di rumah.

FDA mengingatkan oximeter tak bisa dianggap sebagai tes screening untuk COVID-19. Alih-alih menjadikan oximeter sebagai alat deteksi infeksi virus corona, para ahli tetap menyarankan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan yang tepat.



Simak Video "WHO Sarankan Pulse Oximeter untuk Pasien Covid-19 di Rumah"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)