Senin, 08 Mar 2021 08:37 WIB

Fakta-fakta Corona B1351 yang Disebut Ilmuwan 'Varian Raja' dari Afrika Selatan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Virus Corona terbaru atau Sars-Cov-2 yang menjadi penyebab COVID-19 memang berbahaya. Tapi tampilannya di bawah mikroskop bisa sangat bertolak belakang. Fakta-fakta varian Corona B1351. (Foto: NIAID)
Jakarta -

Selain Corona B117 yang sudah masuk Indonesia, ada varian lain yang diwaspadai para ilmuwan di dunia. Varian ini digambarkan seperti 'varian raja', Corona B1351 yang sebelumnya ditemukan di Afrika Selatan.

Menurut peneliti genomik molekuler dan anggota Konsorsium COVID-19 Genomics UK Riza Arief Putranto varian Corona Afrika Selatan bahkan belakangan kasusnya melonjak di Filipina, melebihi dari 50 kasus.

"B1351 ini jokenya di antara teman-teman yang melakukan riset genomic atau virolog itu varian raja," kata dia dalam diskusi online CISDI, Sabtu (6/3/2021).

Berikut sederet fakta Corona B1351 yang disebut varian raja.

1. Ada laporan reinfeksi

Varian Corona B1351 yang pertama kali ditemukan Oktober lalu, sudah menyebar ke banyak negara termasuk Asia seperti Filipina. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut ada kemungkinan reinfeksi terjadi akibat varian ini.

Dalam studi di Afsel, ada 2 persen orang yang pernag terinfeksi Corona kembali terpapar dengan varian baru Corona B1351.

2. Masuk dalam daftar varian yang jadi perhatian WHO

Corona B1351 termasuk varian yang menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dinamakan varian of concern (VOC). Pasalnya, VOC dikhawatirkan berdampak pada penularan yang meingkat hingga memicu infeksi parah dan efikasi pada vaksin Corona.

Selain Corona B1351, varian yang masuk dalam perhatian WHO adalah B117 dan P1 atau 501Y.V3 yaitu varian Corona yang pertama kali dilaporkan oleh otoritas kesehatan Jepang pada empat orang dari Brasil.

3. Berdampak pada efikasi vaksin Corona

Varian Corona B1351 terbukti menurunkan efikasi vaksin Corona. Seperti yang terjadi pada vaksin Corona Novavax, efikasi turun dari 96 persen menjadi 60 persen.

"Karena dia merupakan varian yang mengumpulkan mutasi yang banyak dan memungkinkan untuk escape antibodi dan sudah dibuktikan di dunia," kata Riza.

"Beberapa vaksin di dunia ini efikasinya turun terhadap varian ini, meskipun terhadap varian B117 masih relatif lebih baik," kata Riza.



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)