Soal Uji Klinis Vaksin Nusantara, BPOM Soroti Komite Etik

Soal Uji Klinis Vaksin Nusantara, BPOM Soroti Komite Etik

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 10 Mar 2021 15:02 WIB
Soal Uji Klinis Vaksin Nusantara, BPOM Soroti Komite Etik
Penggagas vaksin Nusantara, Terawan Agus Putranto (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap beberapa catatan terkait vaksin Nusantara. Berdasarkan data yang diterima, Kepala BPOM Penny K Lukito menyoroti persoalan komite etik dalam uji klinis tahap pertama vaksin sel dendritik.

"Ada hal yang mungkin menjadi catatan dikaitkan dengan komite etik, meskipun persetujuan lolos uji etik bersifat universal, berlaku untuk digunakan di mana saja berdasarkan penelitian," kata Penny dalam raker DPR Komisi IX Rabu (10/3/2021).

"Tetapi komite etik di tempat penelitian dilaksanakan haruslah bertanggung jawab terhadap pelaksanaan uji klinik terutama keselamatan subjek penelitian. Komite etik dari RSPAD tapi pelaksanaan ada di Unair," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini, menurut Penny, menjadi tanggung jawab para peneliti vaksin Nusantara untuk memastikan keamanan hingga keselamatan subjek penelitian. BPOM mengaku sudah memberikan hasil kajian dari penelitian vaksin Nusantara tahap pertama dan akan dilakukan diskusi 16 Maret mendatang.

Penny kembali mengingatkan, keselamatan subjek penelitian menjadi tanggung jawab komite etik, dalam hal ini RS Kariadi Semarang sebagai tempat penelitian.

ADVERTISEMENT

"Penelitian ini dilakukan di RS Kariadi Semarang, bekerja sama dengan Diponegoro sebagai RS penelitian besar, dalam hal ini saya kira pada tempatnya RS Kariadi Semarang memiliki komite etik yang mengawasi pelaksanaan uji klinik di RS-nya," sebut Penny.

"Dan saya kira di awal itu tidak ada pembuktian terhadap keselamatan subjek penelitian, itu menjadi tanggung jawab komite etik di RS Kariadi," pungkasnya.




(naf/up)
Kontroversi Vaksin Nusantara
93 Konten
Satu lagi vaksin COVID-19 buatan anak bangsa, Vaksin Nusantara, sedang dalam proses pengembangan. Namun penggunaan teknologi sel dendritik jadi sorotan, dinilai terlalu rumit untuk menjawab kebutuhan di masa pandemi. BPOM tak meloloskan ujinya.

Berita Terkait