Minggu, 14 Mar 2021 18:52 WIB

Round Up

Serba-serbi Hipospadia yang 'Mengubah' Aprilia Manganang Jadi Pria

Vidya Pinandhita - detikHealth
Aprilia Manganang, andalan timnas voli putri pada SEA Games 2017 Kuala Lumpur nanti. Serba-serbi hipospadia yang dialami Aprilia Manganang. (Foto: Femi Diah/detikSport)
Jakarta -

Disebabkan penyakit hipospadia, atlet voli wanita Serda Aprilia Manganang kini mengubah jenis kelamin menjadi pria. Kepala Staf Angkatan Darat (AD) Jenderal Andika Perkasa menegaskan, kondisi ini berbeda dengan transgender atau interseks.

Dokter spesialis urologi dr Rachmat Budi Santoso menjelaskan, hipospadia adalah kondisi kesalahan posisi lubang kencing pada penis. Namun pada kasus hipospadia berat, penis bisa 'tertutup' sehingga pasien disangka berjenis kelamin perempuan.

"Itu sebenarnya lubang kencing laki-laki yang di ujung, dia bisa ada di leher, di batang, bisa di hubungan antara buah zakar dan pangkal penis. Jadi lubang kencingnya di situ," terang dr Santo saat dihubungi detikcom, Rabu (10/3/2021).

Ia menambahkan, jika pemeriksaan ketika bayi baru lahir dilakukan dengan benar, hipospadia tidak mungkin terlambat terdeteksi. Pasalnya, bayi laki-laki dengan hipospadia kerap disangka berjenis kelamin perempuan akibat bentuk penis yang tidak normal, disangka sebagai bagian dari vagina.

Dalam kesempataan lainnya, Kepala Departemen Urologi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Irfan Wahyudi, SpU(K) menjelaskan, penyakit hipospadia disebabkan pembentukan genitalia pria di masa dalam kandungan, khususnya trimester 1 dan 2.

Faktor yang terlibat meliputi kromosom, seks, organ genitalia, hormon, dan reseptornya.

"Gangguan di salah satu atau lebih dari faktor yang terlibat tersebut akan berakibat gangguan dalam perkembangan genitalia anak," terangnya saat dihubungi detikcom, Rabu (10/3/2021).

Ia menyebut, satu-satunya pengobatan untuk hipospadia adalah operasi rekonstruksi. Pasalnya, hipospadia adalah kelainan anatomi.

"Prinsipnya selain membentuk saluran uretra baru hingga ke ujung glans penis, meluruskan penis bila bengkok (chordee), serta revisi kelainan kulit genitalia," imbuh dr Irfan.

Ia turut meluruskan, hipospadia memang berbeda dengan kondisi kelamin ganda. Namun, hipospadia berat kerap digolongkan sebagai kelainan DSD (Disorders of Sexual Development).

"DSD ini dulu sering disebut intersex. Di masyarakat dikenal dengan istilah kelamin ganda, walaupun istilah ini sebenarnya kurang tepat," pungkasnya.



Simak Video "Kenali Risiko Gangguan Reproduksi Karena Bersepeda"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)