Jumat, 19 Mar 2021 15:49 WIB

Menkes Targetkan RS di Indonesia Seperti John Hopkins dan Mayo Clinic

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menkes Budi Gunadi Sadikin Foto: detikcom
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan rumah sakit-rumah sakit di Indonesia bisa menjadi 'Center of Excellence ASEAN" hingga dunia. Menurut Budi, sejumlah RS sudah mempunyai kapasitas tersebut.

"Nomer satu, saya mau RS kita itu menjadi center of excellence, karena RS Kementerian Kesehatan itu besar-besar, harus menjadi center of excellence, bukan hanya di Indonesia, kalau bisa di Asia, kalau bisa di dunia," sebut Budi dalam konferensi pers live di YouTube Kementerian Kesehatan Jumat (19/3/2021).

"Bikinlah satu menjadi Mayo clinic atau John Hopkins, ya intinya harus ke sana," targetnya.

Budi menyebut, sudah saatnya Indonesia mampu membuat pasien-pasien dari luar negeri datang ke RI karena menilai kemampuan RS taraf Internasional. Hal ini dikarenakan, kompetensi para dokter di Indonesia tak kalah dengan dokter di luar negeri, menurut Budi.

"Dan kita buat program untuk bisa mencapai mimpi itu. Jangan orang pergi ke Singapore, orang Singapore dong pergi ke Indonesia, orang Australia dong pergi ke Indonesia, dokter kita jago-jago," bebernya.

"Nah ini RS harus punya ambisi ke sana, yang nomer dua untuk bisa sampai ke sana itu harus research based," jelas Budi.

Salah satu yang disorot Budi terkait kemampuan RS di Indonesia adalah kemampuan riset. Menurutnya, riset-riset medis harus diperbanyak sehingga bisa menjadi rujukan jurnal di dunia, seperti Mayo Clinic.

"Mayo Clinic itu is in the middle of nowhere sebenarnya, cuma karena mereka memiliki kemampuan research medis yang ketat, yang bagus, nah kemudian jadi orang datang ke sana," kata Budi.

"Karena mereka tahu kalau orang kepengen paling advance in treatment ya larinya ke sana, termasuk orang-orang kaya di Indonesia," lanjutnya.

Budi mendorong agar seluruh rumah sakit di Indonesia kini wajib melakukan riset. Terutama pada penyakit yang angka prevalensinya tinggi di Indonesia.

Hal ini bisa terbangun dengan mulai bekerja sama bersama beberapa institusi pendidikan.

"Jadi harus di RS berbasis riset, dan masing-masing harus memilih risetnya berbasis apa, dan kalau bisa yang sesuai dengan prevalensinya tinggi di Indonesia," lanjutnya.

"Kemudian yang ketiga, RS pemerintah ini harus bekerja sama dengan institusi pendidikan, karena di situ kita punya banyak researcher-researcher yang sudah dibayar oleh negara karena dengan begitu ekosistemnya akan terbangun, karena pendidikan karena pendidikan itu berdasarkan research," pungkasnya.



Simak Video "Aplikasi PeduliLindungi Diharapkan Bantu Deteksi Pergerakan Wisatawan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)