Jumat, 19 Mar 2021 21:00 WIB

COVID-19 Diprediksi Jadi Penyakit Musiman, Ini Kata PBB

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
WUHAN, CHINA - FEBRUARY 10:  A protective mask is seen on a statue outside a street on February 10, 2020 in Wuhan, China. Flights, trains and public transport including buses, subway and ferry services have been closed for the nineteenth day. The number of those who have died from the Wuhan coronavirus, known as 2019-nCoV, in China climbed to 909.  (Photo by Stringer/Getty Images) Foto ilustrasi: Getty Images
Jakarta -

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memperkirakan Corona akan berkembang menjadi penyakit musiman. Namun, mereka memperingatkan bahwa pelonggaran tindakan terhadap pandemi tidak bisa hanya berdasarkan pada faktor meteorologi semata.

Setelah lebih dari setahun virus Corona pertama kali muncul di China, banyak misteri yang masih menyelimuti penyebaran penyakit yang telah menewaskan hampir 2,7 juta orang di seluruh dunia itu.

Dalam laporan pertamanya, tim ahli mencoba menjelaskan salah satu misteri tersebut dengan memeriksa potensi pengaruh meteorologi dan kualitas udara pada penyebaran virus Corona. Mereka menemukan beberapa indikasi penyakit tersebut akan berkembang menjadi ancaman musiman.

Tim Organisasi Meteorologi PBB yang beranggotakan 16 orang menunjukkan bahwa infeksi virus pernapasan seringkali bersifat musiman. Khususnya pada puncak musim gugur-dingin untuk influenza dan musim dingin untuk virus Corona di daerah iklim sedang.

"Ini memicu prediksi bahwa, jika terus berlanjut selama bertahun-tahun, COVID-19 akan terbukti menjadi penyakit musiman yang kuat," tulis dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari The Straits Times, Jumat (19/3/2021).

Selain itu, studi pemodelan mengantisipasi bahwa penularan virus SARS-CoV-2 bisa menjadi musiman seiring waktu. Tetapi, dinamika penularan COVID-19 sejauh ini lebih banyak dipengaruhi intervensi pemerintah, seperti wajib menggunakan masker dan pembatasan perjalanan daripada cuaca.

Hal ini membuat tim tugas bersikeras bahwa cuaca dan kondisi iklim saja tidak boleh menjadi rujukan untuk melonggarkan pembatasan COVID-19.

"Pada tahap ini, bukti tidak mendukung penggunaan faktor meteorologi dan kualitas udara sebagai dasar bagi pemerintah untuk melonggarkan tindakan untuk mengurangi transmisi," jelas ketua tim tugas Ben Zaitzchik dari departemen ilmu bumi dan planet di Universitas John Hopkins, Amerika Serikat.

Zaitzchik menunjukkan bahwa selama tahun pertama pandemi, infeksi di beberapa tempat meningkat pada musim panas. Dan sampai saat ini belum ada bukti bahwa kondisi seperti itu tidak bisa terjadi lagi di tahun mendatang.

Menurut para ahli yang berfokus pada meteorologi luar ruangan dan kondisi kualitas udara, penelitian laboratorium telah memberikan beberapa bukti bahwa virus bisa bertahan lebih lama pada cuaca dingin dan kering, serta saat ada radiasi ultraviolet yang rendah.

Namun, masih belum jelas apakah pengaruh meteorologi bisa berdampak pada tingkat penularan dalam kondisi dunia nyata. Mereka juga menyoroti bahwa bukti soal dampak kualitas udara pada virus tetap 'tidak meyakinkan'.

Ada beberapa bukti awal yang menyatakan bahwa kualitas udara yang buruk bisa meningkatkan tingkat kematian COVID-19. Tetapi, polusi tidak secara langsung berdampak pada penurunan SARS-CoV-2 melalui udara.



Simak Video "PBB Minta 70% Populasi Dunia Divaksinasi Sebelum Covid-19 Makin Ganas"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)