Rabu, 24 Mar 2021 12:51 WIB

Pandemi COVID-19 Sebetulnya Hampir Tak Terjadi, Ini Penjelasan Studi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Tim WHO Akhirnya ke Wuhan Selidiki Asal-Usul Virus Corona Foto: ABC Australia
Jakarta -

Sebuah studi baru menyimpulkan COVID-19 bisa saja tidak menjadi pandemi. Perkiraan ini berasal dari model studi peneliti yang mempelajari awal kemunculan COVID-19 di Wuhan, Oktober 2019.

"Studi kami dirancang untuk menjawab pertanyaan tentang berapa lama SARS-CoV-2 dapat beredar di China sebelum ditemukan," kata Joel Wertheim, profesor di Divisi Penyakit Menular dan Kesehatan Masyarakat Global, University of California, San Diego School of Medicine.

Dalam penelitiannya, peneliti menggabungkan tiga informasi yang dinilai penting. Mulai dari bagaimana COVID-19 menyebar di Wuhan sebelum lockdown, keragaman genetik virus di China, dan laporan kasus COVID-19 di awal wabah merebak.

"Dengan menggabungkan dan mempelajari ketiganya, kami dapat menetapkan Oktober, SARS-CoV-2 mulai beredar di provinsi Hubei."

Disebutkan COVID-19 mulanya tak memiliki kemampuan menjadi pandemi. Dalam model tim penelitian, virus disebut 'hanya' mematikan sekitar 30 persen dan diprediksi punah dengan sendirinya jika tak terjadi penularan dalam jumlah besar.

Baca juga: Studi: 1 dari 3 Mantan Pasien Corona Mengalami Efek Jangka Panjang

Lantas apa yang terjadi menurut peneliti?

"Hanya 'nasib buruk' dan kondisi pasar makanan laut Huanan yang padat di Wuhan, tempat Corona muncul atau dilaporkan pertama kali, memberi virus kesempatan besar untuk seketika 'meledak' di seluruh dunia," para peneliti melaporkan dalam jurnal Science, dikutip dari CNN.

"Itu seperti 'badai yang sempurna', kita tahu sekarang bahwa harus benar-benar melindungi atau memproteksi diri dua kali seiring dengan munculnya mutasi-mutasi Corona," kata Michael Worobey, seorang profesor biologi evolusi di Universitas Arizona yang mengerjakan penelitian tersebut, kepada CNN.

Peneliti meyakini, jika kondisinya berbeda, atau orang yang pertama terpapar COVID-19 tak menuju ke pasar basah Wuhan karena terlalu sakit, mungkin saat ini dunia tidak pernah tahu apa itu COVID-19.

"Jika semuanya hanya sedikit berbeda, jika orang pertama yang membawa itu ke pasar Huanan telah memutuskan untuk tidak pergi hari itu, atau bahkan terlalu sakit untuk pergi dan hanya tinggal di rumah, sehingga tak terjadi penularan antarmanusia sangat besar. Kita mungkin tidak pernah mengetahui COVID-19 saat ini."

Bagaimana dengan laporan di luar Wuhan?

Sebuah studi sempat menyebut Corona mungkin saja menyebar lebih dulu di luar Wuhan seperti di Italia dan Eropa, tetapi peneliti meyakini tak ada bukti terkait hal tersebut. Terlebih mereka menemukan hanya belasan orang yang terpapar di awal wabah China.

"Bukti dengan kuat menunjukkan bahwa virus tidak mungkin beredar sebelum itu," kata para peneliti.

"Saya cukup skeptis dengan klaim COVID-19 di luar China saat itu."

Berasal dari hewan mana?

Studi tak menjawab jelas hewan apa yang akhirnya membawa COVID-19 ke manusia, tetapi bukti genetik diklaim menunjukkan kemungkinan besar berasal dari kelelawar melalui spesies perantara, seperti bocoran WHO soal asal usul Corona beberapa waktu lalu.

Kesimpulan COVID-19 tak seharusnya menjadi pandemi juga berasal dari sejumlah peristiwa jenis baru Corona yang lebih dulu muncul sebelum COVID-19, menginfeksi sejumlah orang di sebuah pameran daerah China dan mereka yang kontak dengan babi. Namun, tak satupun dari kemunculan jenis baru Corona ini menjadi epidemi atau wabah seperti COVID-19 yang kemudian menjadi pandemi.

"Jika virus tidak cukup beruntung untuk menemukan keadaan tersebut, bahkan virus yang beradaptasi dengan baik dapat menghilang dari keberadaannya," kata Michael Worobey, seorang profesor biologi evolusi di Universitas Arizona yang mengerjakan penelitian tersebut, kepada CNN.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)