Kamis, 25 Mar 2021 16:00 WIB

Tren Kasus COVID-19 Menurun, Corona di RI Sudah Lewati Puncaknya?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Satu tahun lalu virus COVID-19 terdeteksi di Indonesia. Setahun berlalu, virus itu masih melanda Indonesia. Foto: dok
Jakarta -

Tren kasus Corona di Indonesia tampak menurun. Wakil Menteri Kesehatan dr Dante Saksono mengklaim ada dampak dari vaksinasi COVID-19 pada kasus aktif Corona di Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sempat mengungkapkan Corona di RI sudah mencapai puncaknya pertengahan Januari hingga Februari 2021.

"Untuk Indonesia, kasus harian dan kasus aktif COVID-19 terus menunjukkan tren penurunan dan ini harus kita syukuri, setelah kita pernah mengalami puncaknya 176.672 kasus aktif, sekarang turun 128.250. Di mana kasus harian 5.841 ini turun drastis pada awal atau pertengahan Januari-Februari 12.865," ujar Sri Mulyani saat konferensi APBN KiTA Maret 2021, Selasa (23/3).

Meski penambahan kasus COVID-19 beberapa hari terakhir tampak menurun, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menegaskan puncak Corona belum terjadi di Indonesia. Mengingat angka positivity rate masih di atas 10 persen.

"Indonesia kita ini masih jauh dari pandemi, jadi bahwa vaksinasi bermanfaat iya, tapi tren penurunan ini ada beberapa hipotesa. Bukan terkait vaksinasi karena cakupannya baru 1 persen," beber Dicky saat dihubungi detikcom Kamis (25/3/2021).

Soroti testing, tracing dan treatment (3T)

"Yang jelas kalau bicara penurunan, itu kalau 3T-nya tidak memadai, itu berarti yang turun adalah bahwa kita belum menemukan kasus yang sebenarnya di masyarakat," lanjut Dicky.

Menurutnya, kebanyakan orang yang membawa virus Corona tanpa gejala masih sulit dideteksi sehingga akhirnya penularan COVID-19 di masyarakat masih tinggi.

Positivity rate di atas 10 persen

"Karena ini akan terlihat dari tes positivity rate yang tetap di atas 10 persen, jadi kalau positivity rate sudah di atas 10 persen, mau berapapun nilainya, itu artinya pandemi COVID-19 nya tak terkendali," bebernya.

Dicky menyarankan setidaknya kemampuan testing di Indonesia terus dilakukan sesuai standar yang ditetapkan. Jika testing sudah sesuai standar dan angka positivity rate menurun, penilaian wabah COVID-19 terkendali di RI baru bisa terukur.

"Nah kalau mau melihat begitu, betul nggak kita sudah sampai puncak. Lihatnya begini, kita sudah belum tes kita ini dilakukan sesuai dengan proporsi penduduk," kata Dicky,

"1 tes per seribu orang tapi itu minimal, standar minimal artinya paling sedikit segitu," pungkasnya.



Simak Video "COVID-19 di Indonesia Bisa Mereda Tahun 2022 Jika..."
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)