Kamis, 25 Mar 2021 19:00 WIB

Alat Deteksi Dipakai Bareng untuk TBC dan COVID-19, Ngaturnya Gimana Ya?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Young woman got nose allergy, flu sneezing nose Foto: iStock
Jakarta -

Alat untuk mendeteksi tuberkulosis (TB atau TBC) dipakai juga dalam mendeteksi COVID-19. Kalau bareng-bareng begitu, ngaturnya bagaimana ya biar tidak berantakan?

Tak dipungkiri, pandemi COVID-19 telah membayangi penanganan TBC yang sejak dulu seolah tidak pernah ada ujungnya. Gara-gara pandemi, hanya 30 persen kasus TBC berhasil terdeteksi sepanjang 2020. Selebihnya? Terhalang kewaswasan akan Corona.

"Dulu (2019) kota PRnya tinggal 30 persen. Justru 2030 kebalik, yang ditemukan hanya 30 persen, jadi 70 persennya nggak ketemu" ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid saat ditemui di Jakarta dalam acara peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Kamis (25/3/2021).

Jumlah miris kasus TBC yang berhasil terdeteksi tahun lalu ini jelas mengkhawatirkan. Sebab jika angka 70 persen kasus tak terkuak ini bertahan, Indonesia bisa kembali ke problema TBC 10 tahun lalu.

"Kalau mau 0 kasus, minimal harus 80 persen ditemukan" imbuhnya.

Selain sulitnya pelacakan akibat pembatasan mobilitas selama pandemi, 'berebut' alat pemeriksaan COVID dan TBC tes cepat molekuler (TCM) sempat menjadi kendala.

Pasalnya di awal pandemi, angka COVID-19 meledak. Mau tak mau, pemeriksaan TBC dengan TCM mesti disampingkan. TCM diprioritaskan penggunaannya untuk pemeriksaan COVID-19.

"Di awal pandemi, TCM yang digunakan itu mesin di puskesmasnya 4 modul, artinya bisa memeriksa 4 - 8 pasien. Kalau untuk COVID-19, karena TCM punya kapasitas running, dia tidak bisa kerja 24 jam terus. Shari bisa 3 kali, 4 kali maksimal. Jadi kalau COVID tinggi, otomotis (TCM) habis untuk pemeriksaan COVID" imbuh dr Nadia.

Ditambah, gejala TBC ini mirip dengan COVID-19. Jika hasil pemeriksaan COVID-19 negatif, tak sedikit pengidap TBC langsung merasa aman, berujung tak beroleh penanganan tepat dan dini.

Mengatasinya, dr Nadia menyebut perlu dilakukan peninjauan bagi orang-orang dengan gejala COVID-19, namun menunjukan hasil tes negatif. Bisa dengan cara pasien proaktif memeriksakan diri, atau pemantauan lebih lanjut oleh puskemas.

"Selain kita periksa COVID-nya, kita sudah dapat data bahwa orang ini batuk. Kalau negatif, harus diberikan pengelolaan di puskesmas" imbuh dr Nadia.

Menurut dr Nadia, langkah pendampingan ini telah mulai diupayakan. Tak lain, mengandalkan pendekatan oleh kader kesehatan di desa tempat tinggal pasien.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)