Jumat, 02 Apr 2021 05:30 WIB

Round Up

Kepribadian Seperti Apa Sih yang Rentan Terhasut Jadi Pelaku Terorisme?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Penjagaan di Mabes Polri diperketat untuk penyerangan pada Rabu (31/4) kemarin. Mobil Rantis dan Brimob dengan senjata laras panjang disiagakan. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Zakiah Aini, pelaku penembakan di Mabes Polri, Jakarta pada Rabu (31/4/2021) adalah kelahiran 1995, berusia sekitar 26 tahun. Demikian pula pelaku bom bunuh diri di gedung Katedral, Makassar pada Senin (29/3/2021) yang ternyata juga seusia. Psikolog menyebut, usia remaja hingga dewasa merupakan masa yang rentan dicekoki ajaran terorisme.

Psikolog pro Help Center Nuzulia Rahma Tristinarum menjelaskan, seseorang mudah terhasut ajaran terkait terorisme karena kebutuhan perkembangan psikis tidak terpenuhi seiring pertambahan usia.

"Penelitian menyebutkan bahwa pembinaan terhadap pelaku lebih sering dilakukan saat usia mereka remaja. Usia remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa sehingga lebih rentan terhadap pengaruh dari luar diri. Pada masa remaja ini pelaku lebih mudah diyakinkan untuk melakukan aksi terorisme," terangnya pada detikcom, Kamis (1/4/2021).

Terorisme sebenarnya bisa dicegah sejak dini mengandalkan komunikasi yang terbuka dengan keluarga, didikan, dan pergaulan.

Menurut Rahma, pergaulan tidak terkungkung di 1 lingkungan bisa menciptakan sikap kritis dan berani menolak ajaran buruk, termasuk yang membenarkan terorisme.

"Asuh dengan cinta dan logika. Penuhi jiwa anak-anak kita dengan kasih sayang, perhatian, kedekatan secara psikologis. Jangan lupa mengasuh mereka untuk berpikir kritis dan mandiri secara emosional. Sering ajak diskusi dua arah anak-anak dan remaja kita," imbuhnya.

Pendapat senada juga disampaikan psikolog klinis forensik Kasandra Putranto. Menurutnya, aksi terorisme terkait erat dengan konflik keluarga berupa penanaman nilai radikalisme sejak dini, atau kurangnya pendidikan dari keluarga.

Menurutnya, terorisme disebabkan masalah pendidikan sejak dini dengan penanaman radikalisme dan ekstremisme. Hal ini tidak terlepas dari kondisi psikis terduga pelaku.

"Sebagian besar justru disebabkan karena profil psikologis yang khas, antara lain karena memiliki pikiran yang kaku dan terpaku pada ide tertentu, masalah dalam pemahaman dan pengambilan keputusan, menutup diri, meyakini pemikirannya sebagai kebenaran yang absolut," terangnya pada detikcom.



Simak Video "Toxic Positivity, Racun Dibalik Ucapan Semangat"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)