Senin, 05 Apr 2021 14:20 WIB

Hebohkan Dunia 'Per-COVID-an' Jepang, Sebenarnya Varian 'Eek' Itu Apa Sih?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Coronavirus COVID-19 swab test in Japan Varian Eek muncul di Jepang (Foto: Getty Images/iStockphoto/Thomas Faull)
Topik Hangat Varian 'Eek' COVID-19
Jakarta -

Varian 'Eek' alias mutasi E484K kini ramai diperbincangkan. Setelah dilaporkan ditemukan di Jepang, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kini baru saja melaporkan 1 temuan kasus di Indonesia, yang belum disebutkan lokasinya.

Di Jepang, khususnya Tokyo, varian ini ditemukan pada 70 persen kasus yang ditemukan bulan lalu. Pada 10 kasus yang ditemukan di Tokyo Medical and Dental University, pasien tidak punya riwayat perjalanan ke luar negeri.

Beberapa fakta terkait varian Eek adalah sebagai berikut.

1. Sebenarnya bukan varian virus Corona

Sebenarnya Eek alias E484K bukanlah sebuah varian virus Corona, melainkan mutasi yang terjadi pada virus Corona. Beberapa varian memiliki mutasi ini, di antaranya varian Inggris B117 dan varian Afrika Selatan B1351.

Di kalangan beberapa ilmuwan, mutasi ini dikenal dengan julukan 'Eek' atau 'Eric'.

Dikutip dari 9News, mutasi mengubah protein lonjakan yang digunakan virus untuk memasuki sel manusia. Yang dikhawatirkan, mutasi ini tidak dikenali oleh sistem kekebalan tubuh sehingga virus tidak dapat dilawan, meski tubuh telah menerima vaksin COVID-19 sebelumnya.

E484K ini disebut 'escaped mutant', yakni versi mutan virus Corona yang terbukti dapat lepas dari antibodi pada tubuh yang dibentuk oleh vaksin.

2. Varian yang mengandung 'Eek'

Awalya, mutasi E484K ditemukan pada mutasi virus Corona asal Afrika Selatan yakni B1351. Namun seiring perkembangannya, mutasi ini juga ditemukan pada varian di Inggris B117 dan varian P1 di Brazil.

3. Pengaruh Eek pada efektivitas vaksin

Menurut penelitian di Afrika Selatan, ada kemungkinan varian Eek membentuk kombinasi dengan mutasi lain. Maka itu dikhawatirkan, vaksin Corona yang ada kini tak mempan mengatasi infeksi oleh mutasi E484K.

Uji coba University of Witwatersrand di Johannesburg, Afrika Selatan menunjukkan, vaksin AstraZeneca mengurangi gejala COVID-19 ringan hingga sedang hanya sebanyak 22 persen.

Lainnya, vaksin Novavax mengklaim vaksinnya 89 persen terbukti efektif melalui uji coba Fase 3 di Inggris. Namun dalam uji coba Fase 2b lainnya di Inggris, Novavax terbukti hanya bekerja efektif 60 persen.

Sedangkan berdasarkan uji coba Fase 3 vaksin Johnson & Johnson, terdapat sejumlah laporan berbeda soal efektivitas vaksin. Uji coba di Amerika Serikat menunjukkan efektivitas 72 persen, sementara di Afrika Selatan tercatat 57 persen.



Simak Video "PM Jepang Ambil Tindakan Antisipasi Hadapi Mutasi Corona 'Eek'"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)
Topik Hangat Varian 'Eek' COVID-19