Senin, 05 Apr 2021 15:40 WIB

Updated

Eijkman: Varian 'Eek' di Indonesia Ditemukan di RI, Sampel Diambil dari DKI

Vidya Pinandhita - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Topik Hangat Varian 'Eek' COVID-19
Jakarta -

Mutasi virus Corona E484K alias varian 'Eek' juga ada di Indonesia. Pakar mikrobiologi menyebut, mutasi ini berpotensi menular dan menyebar lebih cepat.

"Kekhawatirannya adalah yang utama, penularannya lebih cepat karena dia replikasinya lebih tinggi, lebih kuat sehingga dari situ dikhawatirkan akan lebih cepat menular dan menyebar ke lebih banyak orang," terang Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio pada detikcom, Senin (5/4/2021).

Meskipun mutasi E484K ditemukan juga pada varian Inggris B117, temuan di Indonesia bukan dari salah satu pasien B117. Kasus yang didapat merupakan sampel yang diambil dari salah satu Rumah Sakit di Jakarta Barat.

"Mudah-mudahan tidak bertambah dan betul-betul data itu merepresentasikan situasi sebenarnya," ujar Prof Amin.

Ia menjelaskan, pencarian mutasi-mutasi virus Corona, termasuk E484K atau varian Eek di Indonesia masih dalam pencarian.

"Kita baru mulai. Diharapkan tahun ini kita akan bisa melakukan sequencing (sebanyak) 5.000 sequence sehingga kita bisa punya gambaran berapa mutasi sudah ada di Indonesia. Atau adakah mutasi-mutasi lain yang perlu mendapat perhatian," imbuhnya.

Selain pada varian B117, mutasi E484K pula ditemukan pada varian B1351 asal Afrika Selatan dan varian P1 yang ditemukan di Brasil.

"Bisa saja (ditemukan di varian lain), walaupun tidak selalu. Contohnya B117 yang ditemukan terakhir itu, dia tidak mengandung E484K, jadi tidak selalu," ujar Prof Amin.

Varian 'Eek' atau mutasi E484K juga dikhawatirkan tak bisa dilawan oleh vaksin Corona yang sudah ada. Kegagalan vaksin ini sangat memungkinkan lantaran ada bagian tertentu dari virus yang tidak bisa dikenali oleh antibodi pada tubuh bentukan vaksin.

Namun Prof Amin menyebut, hingga kini belum ada pembuktian dari lab terkait efektivitas vaksin terhadap E484K tersebut.

"Kalau bagian (mutasi virus) itu berubah, antibodi jadi tidak bisa menempel lagi, tidak bisa mengenali lagi. Itu yang dikhawatirkan. Setidaknya, dayanya akan menurun," imbuhnya.

Catatan redaksi: Sebelumnya, judul artikel ini menyebut mutasi 'Eek' ditemukan di salah satu kasus B117. Informasi tersebut tidak tepat dan telah dikoreksi. Terima kasih.



Simak Video "Jepang Temukan Mutasi Virus Corona Baru Bernama 'Eek'"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)
Topik Hangat Varian 'Eek' COVID-19